Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

New Articles

1 2 3 4 5 6 7 8

Rabu, 02 Juni 2010

Pindah ke Belajar - Unlock Potensi Otak

Ada sekitar sebagai sel saraf otak banyak karena ada bintang di galaksi Bima Sakti. Yang unik dari hubungan antara neuron yang masing-masing kita mengembangkan menentukan bagaimana kita memandang dunia, bentuk pengalaman masa depan kita, dan memang, menentukan siapa kita yang sukses siswa telah mengembangkan kaya, jaringan yang terhubung dari neuron.. Banyak faktor yang mendorong neuron ke cabang dan berkomunikasi satu sama lain. Dalam newsletter ini, topik kita akan peran vital gerakan dalam perkembangan otak.

Dalam pencarian kita untuk memahami perilaku cerdas, kita telah gagal untuk menghargai bahwa pembelajaran tidak terjadi secara ketat dalam pikiran Pembelajaran dan. Kreativitas tubuh "seluruh" fenomena dan tidak dapat terjadi secara independen. Kami mengajarkan "ke kepala" saja, meminta siswa untuk duduk di kursi untuk jangka waktu yang lama, mendengar dan melihat hampir secara eksklusif di simbol abstrak, bahkan ketika mereka masih sangat muda Kita. tidak sepenuhnya menghargai bahwa pikiran tidak dapat unggul tanpa dukungan dari tubuh. Kami tidak "mendapatkannya "bahwa kita harus bergerak untuk belajar.

Apa peran gerakan dalam belajar?
Gerakan merangsang pertumbuhan jaringan saraf tergantung pada yang belajar. Ini affords kita kesempatan untuk menjelajahi dunia kita dan mengumpulkan data indra bahwa bahan bakar perkembangan kecerdasan, dengan kata lain, memprovokasi belajar. Gerakan memberikan umpan balik bahwa otak membutuhkan dalam rangka untuk belajar. Gerakan memungkinkan kita untuk mengekspresikan pengetahuan dan karena itu maju ke dataran tinggi berikutnya dalam pemahaman kita.

Apa yang bisa orangtua lakukan untuk mendorong belajar lebih kuat pada anak-anak mereka?
Tidak sangat banyak tahun lalu, anak-anak bermain di pekarangan mereka selama berjam-jam setiap hari Mereka berlari,. Memanjat pohon, membangun benteng, membuat kue lumpur dan pura-pura untuk terbang. Ini pengalaman mengembangkan jaringan syaraf kaya yang mendukung perkembangan otak dalam anak-anak. Kaum muda hari ini menghabiskan waktu jauh lebih sedikit bergerak. Mereka menonton televisi jauh lebih banyak dan bermain video game lebih signifikan.
Kita dapat mengintegrasikan gerakan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kita dan meningkatkan kapasitas mereka untuk berhasil. Secara khusus, anak-anak yang telah belajar masalah manfaat dari dimasukkannya sistematis gerakan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap tubuh "" belajar dengan caranya sendiri yang unik Kegiatan berikut dapat merangsang untuk pengembangan jaringan otak yang kuat.. Biarkan anak Anda untuk percobaan selama waktu pekerjaan rumah dan menemukan kombinasi tertentu kegiatan yang paling efektif.

Kebanyakan siswa mengingat informasi baru yang lebih baik ketika mereka berbicara, menulis atau menggambar Dorong anak Anda untuk "mengajar" informasi baru kepada orang lain dalam rumah tangga. Bagi para pelajar yang jangkar keterangan terbaik dengan menulis,. menyediakan mereka dengan papan tulis dan spidol dihapus atau mendorong mereka untuk mencatat di atas kertas itu tidak selalu perlu untuk menyimpan catatan atau membaca nanti dalam rangka jangkar informasi dalam memori.. Tindakan menuliskan informasi yang mempromosikan pengembangan hubungan antara konsep-konsep. Mendemonstrasikan konsep pembelajaran adalah cara lain yang ampuh untuk menggabungkan belajar baru ke dalam jaringan syaraf tiruan yang ada Biarkan anak Anda untuk bertindak di luar apa yang telah dibaca., membangun model, menggambar diagram atau bagan, menyanyi atau menari.

Banyak siswa yang hadir, berkonsentrasi dan belajar lebih baik ketika terlibat dalam berulang, konsentrasi tugas rendah seperti menggambar, melipat kertas, goyang, atau meremas bola. Anak Anda juga dapat mencoba berjalan di sekitar kamar saat membaca atau belajar. Sarankan kepada anak Anda bahwa dia melakukan ini setiap 15 menit sewaktu mengisi pekerjaan rumah.

Karena mulut adalah situs penting dari integrasi saraf dan terkait erat dengan perkembangan otak, beberapa siswa menemukan bahwa mengunyah bisa menjadi kegiatan yang sangat mengintegrasikan yang mempromosikan konsentrasi dan pemahaman Permen karet. Benar-benar dapat menjadi cara yang efektif untuk fokus! Lebih baik untuk menjaga sederhana renyah,. pedas, asin atau makanan asam dapat penguat konsentrasi efektif. Apakah anak Anda mencoba wortel, permen karet bebas gula, pretzel atau permen asam kecil.

Dorong anak Anda untuk melakukan aktivitas fisik lateral lintas selama lima menit setiap jam Cross melakukan gerakan lateral. Tangan dan kaki pada sisi berlawanan dari tubuh. Sebagian besar dari gerakan ini lebih efektif bila dilakukan berdiri. Penambahan musik berirama memberikan dorongan. Beberapa lateral lintas gerakan mahasiswa menemukan:

Menyentuh tangan (atau siku) ke lutut yang berlawanan.
Malas 8. Gunakan satu tangan untuk melacak tanda tak terhingga besar di depan tubuh, mengikuti tangan dengan tangan dan mata alternatif. Terus.
Cross tangan di depan wajah dalam bentuk "X" melacak sebuah 8 malas. Pastikan untuk melihat jalan dari 8 sementara menelusuri.
Karate Cross Crawl: Kick sementara menekan atau memotong tangan dan kaki alternatif (daging tangan kanan sedangkan kaki kiri tendangan).
Cross Crawl Sit-up. Sedangkan berbaring di bagian belakang dengan tangan terlipat di kepala untuk dukungan, duduk dan menyentuh siku kanan ke lutut kiri siku alternatif. Menyentuh ke lutut yang berlawanan.
Double Doodle Gambar desain dengan kedua tangan. Secara bersamaan. Pastikan bahwa desain adalah bayangan cermin satu sama lain, bukan menghadap arah yang sama.
Tentang Penulis


Miller Dr Kari adalah Dewan Pendidikan dan Certified Therapist Direktur Miller Keunggulan Pendidikan di Los Angeles. Dia memulai karirnya hampir dua puluh lima tahun yang lalu sebagai sumber daya guru pendidikan khusus. Dia telah bekerja dengan siswa dalam array yang luas kapasitas, termasuk guru pendidikan khusus dan pendidikan terapis. Dr Miller memiliki PhD di Psikologi Pendidikan dan Matematika Statistik, gelar master dalam Belajar Cacat, Berbakat Pendidikan dan Pendidikan Diagnosis, dan gelar sarjana di bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Perilaku Gangguan.

Untuk menghubungi Dr Miller
Email: klmiller555@sbcglobal.net
Website: www.millereducationalexcellence.com
Telepon: 310-280-9813
Read More...

Apa hal yang paling Besar di Dunia ini?

Di sebuah kelas, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya : ” Apa yang paling besar di dunia ini ? ”
Seorang murid menjawab : ” Bapak saya, dia yang paling besar di dunia ini..”
Murid lain berteriak : ” Sudah pasti gajah pak guru, badannya gedhe banget, pasti dia yang paling besal di dunia ”
Seorang murid lain tidak mau kalah : ” Yang paling besar di dunia ya pasti Gunung pak guru, nggak ada yang bisa mengalahkan besarnya gunung di dunia ini..”

Sesudah perdebatan itu, hening sejenak. Lalu pak guru bertanya pada seorang murid yang duduk di dekatnya.
” Menurutmu, apa yang paling besar di dunia ini ?”
Murid itu menjawab : ” Mata saya pak guru..”
” Lho kok bisa mata kamu yang paling besar di dunia ?”
” Iya pak guru, dengan mata saya bisa melihat bapak saya dan juga gajah gajah, bahkan gunung pun terlihat dengan jelas di mata saya, jadi pastilah mata saya yang paling besar di dunia ini…” jawab sang murid
Sang guru pun tersenyum. Secuil kebijakan telah didapatkan hari ini.
” Engkau benar anakku… namun bisa bapak tambahkan, bahwa Pikiran kitalah yang paling besar di dunia. Dengan pikiran kita bisa membuat segala hal yang besar, yang bisa menampung segalanya..”
Maka rekan-rekan, besarkanlah pikiran untuk karena hal-hal besar selalu lahir dari hasil Pikiran yang besar

Sumber inspirasi : halaman sebuah buku yang selintas terbaca waktu mampir sejenak di toko buku kemarin sore.
Read More...

Pesan-pesan Hikmah Untuk Engkau Wahai Pendidik

Rasulullah saw bersabda: "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah swt sangatlah santun dan menyukai kelemahlembutan. Dia memberikan ganjaran untuk sikap lemah yang takkan pernah diterima oleh sikap kasar (aniaya), bahkan tidak juga diterima oleh sikap-sikap lainnya" (HR Muslim).

"Sesungguhnya sikap kasih sayang, jika melekat pada sesuatu, pastilah ia akan menjadi hiasan yang sangat indah. Dan jika ia hilang, maka segala sesuatu pun akan kehilangan keindahannya" (HR Muslim diriwayatkan dari Aisyah).


Ibnu Khaldun mengatakan: "Barang siapa yang dididik dengan kekasaran dan kekerasan, baik itu dari kalangan orang-orang terpelajar, budak, atau pembantu, maka kekerasan itu akan menguasainya, mempersempit perkembangan jiwanya, menghilangkan vitalitasnya, membuatnya jadi malas, suka berbohong dan berkata-kata kotor, serta membohongi nuraninya sendiri . Kekerasan itu pun akan mengajarinya menjadi sosok yang suka bermakar dan menipu. Perlahan semua itu akan menjadi kebiasan dan tingkah laku yang mendarah daging, merusak nilai-nilai kemanusiaan dari sisi sosial dan adab. Lalu jadilah ia sampah masyarakat, terhina di tempat yang paling bawah"

Al-Qâbisi mengatakan: "Hendaknya seorang anak diberi apresiasi jika ia melakukan suatu kebaikan. Agar ia tahu mana perbuatan baik yang harus selalu dilakukan, dan mana perbuatan buruk yang harus ditinggalkan

Al-Qadhi Hasan Al-Asymawi mengatakan: "Saya percaya bahwa pemberian arahan yang baik, dan pemberitahuan mengenai kesalahan, serta tuntunan ke arah perbuatan yang benar, harus benar-benar dilandasi oleh sikap kasih yang tulus dan terbebas dari segala unsur kekerasan dan kekasaran, termasuk cara menatapnya...

Pengarang kitab Zallatu Al-Walidaini mengatakan: "Berbagai eksperimen telah mengajari kami untuk tidak lalai dari memberikan ganjaran (baik hadiah ataupun sangsi), sesuai dengan perkara yang terjadi, apakah itu kebaikan atau keburukan. Dan jika caranya salah, maka dampak yang akan muncul adalah sebuah kemalasan dan pembangkangan, yang hanya akan mengundang bangkitnya pilar-pilar kewenangan kita belaka. Sesungguhnya di buku manapun, kita tidak akan pernah menemukan ilmu pasti dalam mendidik anak kecil yang bisa menjamin keberhasilan secara mutlak"

Al-Qadhi Hasan Al-Asymawi mengatakan: "Tongkat kayu dan ucapan yang kasar, selamanya tidak akan mampu menciptakan manusia yang shaleh. Justru yang tercipta adalah kera yang terlatih. Yang pandai menunjukkan perilaku baik sebatas tingkah lahiriyahnya. Namun bukankah yang kita kehendaki adalah, putra-putri kita menjadi manusia seutuhnya, bukan kera"

Rasulullah saw telah bersabda: "Perintahkan mereka (anak-anak kalian) untuk mengerjakan shalat saat berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika enggan menunaikannya saat telah berusia tigabelas tahun". (HR Ad-Dar Quthni (1/231).

Al-Qadhi Syuraih berpendapat: "Seorang anak yang enggan membaca Al-Quran jangan dipukul, kecuali hanya sebatas tiga pukulan, sebagaimana yang dilakukan Jibril, yang mendekap erat Nabi Muhammad sebanyak tiga kali dalam peristiwa wahyu pertama di gua".

Al-Qâdhi Hasan Al-Asymâwi mengatakan: "Sangsi pukulan harus terbebas dari segala unsur kekerasan dan pelampiasan amarah. Jika tidak, maka tindakan itu tak ubahnya seperti balas dendam atau pelecehan fisik, bahkan bisa dikatakan sebagai perbuatan kriminal yang jahat, bukan sangsi mendidik seperti yang dimaksudkan. Dan hendaknya suami selalu menasehati istrinya dalam mendidik anaknya: "Harus engkau ketahui bahwa hukuman tak ubahnya racun yang membunuh, jika terpaksa kau menggunakannya, maka berbuatlah layaknya kau seorang dokter yang menggunakan racun sebagai obat yang terukur sesuai dosis yang tepat.

"Tidak ada yang lebih buruk dalam proses pembinaan cita-cita, selain meluncurnya kata-kata celaan dan hinaan secara berlebihan, atau pemberian tugas yang memberatkan. Sebab cara membunuh cita-cita adalah dengan memberikan beban yang mengarahkan pada kegagalan, kejenuhan dan kemalasan. Motivasi adalah jalan terbaik untuk membebaskannya".

"Seorang guru terhadap muridnya, orang tua terhadap anaknya, hendaknya tidak membina dan mendidik mereka secara semena-mena" (Ibnu Khaldun).

"Sesungguhnya ketidaktentraman perasaan anak terhadap lingkungan sosialnya, dapat mendorong mereka melakukan kesalahan. Kecaman, celaan, dan sangsi, yang dirasakan dari lingkungan itu, dapat membuat mereka kehilangan rasa aman. Oleh karena itu, kemarahan dan kezaliman yang mereka rasakan, serta interaksi yang buruk antara mereka dengan masyarakat, dapat menjadi faktor yang menyebabkan mereka lari dari rumah dan sekolah, dan lebih memilih jalanan yang dianggap bisa menampung ekpresi jiwa mereka, sehingga mereka merasa terbebas dari segala tekanan dan kegundahan yang selama ini melanda. Demikian juga jika idealisme mereka berseberangan dengan keinginan dan angan-angan kedua orang tua mereka.

Sumber :www.to-be1st.com
Read More...

Istighfar dan Taubat sebagai pembuka pintu rizki

Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mereka mengucapkan,

“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat ke-padaNya”

Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.

Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang se-baik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.

Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berke-inginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”

Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hu-kumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.

Sumber http://www.alfurqon.or.id
Read More...

Tips Belajar Efektif

Ada baiknya Anda membuat persiapan yang baik buat satu semester ke depan. Tak ubahnya para peserta diri yang dituntut mempersiapkan segala keperluan, seperti buku pelajaran, buku tulis atau baju seragam. Selain itu, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan, Pertama, tentukan target Anda di semester ini apa. Kemudian buat jadwal harian yang isinya langkah-langkah menuju target tersebut. Supaya target belajar goal-nya lebih cepat, berikut ada beberapa tips bagaimana cara belajar yang efektif, yang telah teruji oleh beberapa negera maju. Tips ini bias Anda jalankan sendiri, atau ditularkan kepada peserta didik Anda.
1. Seorang teman dari Amerika memberi saran belajar yang dia dapat dari ayahnya. Hari pertama sekolah, ulang kembali pelajaran yang telah didapat. Setelah itu baca singkat dua halaman materi berikutnya buat cari kerangkanya saja. Begitu pelajaran tersebut diterangkan guru esoknya, Anda sudah punya gambaran atau dasarnya, tinggal menambahkan saja apa yang belum Anda tahu. Jadi begitu pulang sekolah, tinggal mengulang saja untuk mencari kesimpulan atau ringkasan.
2. Usahakan selalu konsentrasi penuh waktu mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru atau totor. Materi yang Anda dengar bakal mudah dipanggil lagi begitu Anda menghapal ulang pelajaran tersebut.
3. Beberapa teman juga merekomendasikan untuk mengetik ulang catatan pelajaran ke dalam komputer. Logikanya, dengan mengetik ulang catatan berarti sama saja dengan membaca ulang pelajaran yang baru saja didapat dari sekolah. Materi yang diulang tadi bisa tersimpan di memori otak buat jangka waktu yang lama. Lebih bagus lagi kalo membacanya kembali atau mempelajari catatan tersebut setelah diketik.
4. Cara lain adalah dengan membaca ulang catatan pelajaran kemudian buat kesimpulan dengan kalimat sendiri. Supaya dapat terpatri lama di memori, tulis kesimpulan tadi di secarik kertas kecil seukuran kartu nama. Kartu-kartu tersebut efektif untuk mengulang dan membaca singkat kala senggang.
5. Teman lainnya menyarankan untuk selalu menggunakan buku catatan yang berbeda pada setiap mata pelajaran. Cara ini dinilai lebih teratur sehingga pada waktu ingin mengulang suatu pelajaran kita tidak perlu lagi harus membuka semua buku.
6. Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dengan membaca atau menulis. Mengajari teman lain tentang materi yang baru diulang bisa membuatmu selalu ingat akan materi tersebut. Bagusnya lagi, Anda menjadi lebih paham akan materi tersebut.
7. Belajar mendadak menjelang tes memang tidak efektif. Paling tidak sebulan sebelum ulangan adalah masa ideal buat mengulang pelajaran. Materi yang banyak bukan masalah. Caranya: selalu buat ringkasan atau kesimpulan pada setiap pelajaran, kalau perlu pakai tabel atau gambar ilustrasi supaya mudah diingat.
8. Ada beberapa teman di Australia yang menyukai waktu belajar pada siang hari. Maklum, badan masih segar setelah tidur cukup di malam hari, jadi semangat masih tinggi. Kondisi yang bagus tersebut tidak mereka sia-siakan begitu saja. Pagi mereka konsentrasi penuh pada pelajaran di kelas dan siangnya konsentrasi untuk mengulang kembali. Malam hari hanya mereka gunakan untuk mengerjakan aktivitas ringan atau pekerjaan rumah. Jadi tidak pernah ada kata begadang.
9. Kalau badan capek, bakal susah buat konsentrasinya. Beberapa teman menyarankan untuk libur dulu dari acara olah raga atau kegiatan fisik lainnya sehari menjelang ulangan umum.
10. Belajar sambil mendengarkan musik memang asyik. Pilih music yang tenang tapi menggugah. Musik klasik macam Beethoven ato Mozart bisa dicoba. Musik tipe ini cocok banget buat menemani kamu selama mengerjakan tugas yang jawabannya sudah pasti, seperti matematika, ilmu alam atau bahasa asing. Dijamin stamina belajar Anda akan selalu berisi dan penuh semangat.
Memang bingung ya kalau semua orang saling memberi tahu apa yang harus dikerjakan. Paling penting adalah utamakan prioritas Anda. Karena biasanya kita menilai diri sendiri dari apa yang dirasakan, sedang orang lain hanya melihat dari apa yang telah kita hasilkan. Sementara apa yang bisa kita hasilkan hanya kita sendiri yang tahu. Jadi, buat target yang kamu percaya mampu meraihnya bukan apa yang dipikirkan orang lain. Begitu juga dengan cara belajar efektif, pilih cara baik mana yang paling pas dengan kondisi Anda. Selamat mencoba!

Sumber: Study Tips from Students, www.adprima.com
Read More...

Pembelajaran Berbasis ICT (E-Learning)

Banyak pakar yang menguraikan pengertian e-learning dari berbagai sudut pandang. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001). E-learning juga didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, dan lain-lain (Learn Frame.Com, 2001). Definisi lain menyimpulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-Room atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain sebagainya. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003).

Jaya C. Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Selanjutnya Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Teknologi Pendukung E-learning

Dalam praktiknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam per-kembangannya komputerlah yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara elektronik. Karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer dan computer assisted learning (CAL) atau pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya pada pembelajaran, maka ia akan menjadi dikenal atau populer di kalangan siswa karena berbagai variasi teknik mengajar yang bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut.

Adapun teknologi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu technology based learning dan technology based web learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technology, misalnya: radio, audio tape, voice mail telephone, dan Video Information Technologies, misalnya: video tape, video text, video messaging. Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies, missalnya: bulletin board, internet, e-mail, tele-collaboration.

Cara Pembelajaran dengan E-learning

Pada dasarnya cara pemberian pembelajaran e-learning dapat digolongkan menjadi dua, yaitu one way communication (komunikasi satu arah) dan two way communication (komunikasi dua arah). Komunikasi atau interaksi antara guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam e-learning, sistem dua arah ini juga bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu, dilaksanakan melalui cara langsung (synchronous) artinya pada saat guru memberikan pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan dan dilaksanakan melalui cara tidak langsung (a-synchronous) misalnya pesan dari guru direkam dahulu sebelum digunakan.

Adapun karakteristik e-learning antara lain yaitu: (1) memanfaatkan jasa teknologi elektronik yaitu guru dan siswa, sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; (2) memanfaatkan keunggulan komputer digital media dan computer networks; (3) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; dan (4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memanfaatkan E-learning

Ahli-ahli pendidikan menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain:

a. Analisis Kebutuhan (Need Analysis )

Dalam tahap awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Apabila analisis ini telah dilaksanakan dan jawabannya adalah memerlukan e-learning, maka tahap berikutnya adalah membuat studi kelayakan (Soekartawi, 1995) yang komponen penilaiannya adalah:

* Apakah secara teknis dapat dilaksanakan (technically feasible) misalnya jaringan internet bisa dipasang, apakah infrastruktur pendukungnya seperti telepon, listrik, komputer tersedia, apakah tenaga teknis yang bisa mengoperasikannya tersedia, dan lain sebagainya.
* Apakah secara ekonomis menguntungkan (economically profitable) misalnya dengan adanya e-learning dapat memberikan keuntungan.
* Apakah secara sosial penggunaan e-learning tersebut diterima oleh masyarakat (socially acceptable)

b. Rancangan Instruksional
Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam menentukan rancangan instruksional (Soekartawi, et al, 1999; Yusup Hashim and Razmah, 2001) yaitu:

*
Course Content and Learning Unit Analysis seperti isi pelajaran, cakupan dan topik yang relevan.
*
Learner Analysis, seperti latar belakang pendidikan siswa, usia, seks, status pekerjaan, dan sebagainya.
*
Learning Context Analysis, seperti kompetisi pembelajaran yaitu mengenai apa yang diinginkan hendaknya dibahas secara mendalam pada bagian ini.
*
State Instructional Objectives. Tujuan instruksional ini dapat disusun berdasarkan hasil dari analisis instruksional.
*
Construct Criterion Test Items. Penyusunan tes ini dapat didasarkan dari tujuan instruksional yang telah ditetapkan
*
Select Instructional Strategy. Strategi instruksional dapat ditetapkan berdasarkan fasilitas yang ada.

c. Tahap Pengembangan
Pengembangan e-learning dapat dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas ICT yang tersedia. Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas ICT tidak dilengkapi dalam waktu yang bersamaan, begitu pula dengan bahan ajar dan rancangan instruksional yang akan dipergunakan hendaknya dikembang-kan dan dievaluasi secara terus menerus.
d. Tahap Pelaksanaan
Prototype yang lengkap bisa dipindahkan ke komputer (LAN) dengan menggunakan format tertentu misalnya format Hyper Text Markup Language (HTML) dan uji prototype hendaknya terus menerus dilakukan.
e. Tahap Evaluasi
Sebelum program dimulai, ada baiknya diujicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut mengevaluasi.
Proses dari kelima tahapan di atas diperlukan waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus menerus. Masukan dari orang lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara serius. Proses dari tahapan satu sampai lima dapat dilakukan berulang kali, karena prosesnya terjadi terus me-nerus.
Masalah-masalah yang sering dihadapi dalam e-learning.
1) Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
4) Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.
5) Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang ada.
6) Masalah skill dan knowledge.
7) Attitude (perilaku) terhadap ICT.
Karena itu perlu diciptakan bagaimana semuanya mempunyai sikap yangpositif terhadap ICT, bagaimana semuanya bisa mengerti potensi ICT dan dampaknya ke siswa sehingga penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pembangunan.
5. E-learning dan Internet dalam Pembelajaran
E-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar didominasi oleh peran guru, karena itu disebut the era of teacher. Kini proses belajar dan mengajar banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi oleh peran guru, buku, dan teknologi (the era of teacher, book and technology).
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, kita sebaiknya tidak gagap teknologi.
Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Informasi sudah merupakan “komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam du-nia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju era masyarakat informasi atau masyarakat ilmu pengetahuan.
Contoh klasik yang bisa dipakai bahwa kebutuhan informasi sudah membudaya yaitu melalui pengalaman Bill Gates yang kita kenal sebagai sosok orang yang mempunyai perusahaan Microsoft Computer. William Henry Gates III atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates tersebut sebenar-nya kuliah di bidang ilmu hukum Harvard University. Ia ingin menjadi pengacara karena dengan keahlian sebagai pengacara tersebut, maka ia bisa mempunyai ’power’ untuk membantu masyarakat yang memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran.
Belajar ilmu hukum menurut dia, ternyata memerlukan waktu yang banyak untuk membaca di berbagai tempat seperti perpustakaan, toko buku, atau sumber informasi yang lain. Ia merasa waktunya habis untuk membaca saja. Di situlah ia lalu menemukan idenya mengapa informasi yang tersebar di mana-mana itu tidak dikemas saja dalam satu wadah (baca komputer) agar yang memerlukannya tidak harus ke sana kemari. Di benak Bill Gates saat itu ia memimpikan ‘how to create a tool for the information era that could magnify the brain power instead of just muscle power’ (bagaimana menciptakan se-buah alat untuk era informasi yang bisa memperbesar otak selain tenaga). Se-jak itulah The Saga of Microsoft mulai digarap. Bill Gates akhirnya menjadi orang yang sangat produktif dan output oriented. Menurut Robert Heller yang menulis buku tentang Bill Gates menyatakan bahwa Bill Gates selalu bilang “Turn your vision into reality”. Itulah sebabnya program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat jasa Bill Gates inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang ini.
Pemanfaatan e-learning khususnya internet untuk kegiatan pembelajaran saat ini dikenal tidak hanya di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, namun juga di berbagai penjuru dunia. Hal ini karena suatu kebutuhan baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan serta jawaban atas tantangan global sehingga penggunaan e-learning dalam hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peran internet. Internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaring-an yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti bahwa e-learning bisa dilakukan karena internet. E-learning sering disebut pula de-ngan nama on-line course karena aplikasinya memanfaatkan jasa internet.
Pemanfaatan internet untuk e-learning di sekolah dapat meningkat apabi-la fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infra-struktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Karena itu demi kelancaran terapan e-learning dalam proses belajar mengajar, perlu diantisipasi hambat-an-hambatan yang sering muncul seperti ketersediaan telepon dan listrik.
Penggunaan internet untuk pembelajaran sering disebut e-learning. Istilah lain untuk menamakan penggunaan internet dalam pembelajaran ialah
pembelajaran berbasis jejaring (web-based instruction), belajar on-line (online learning), ruang kelas virtual (classroom virtual), atau pembelajaran berbasis WWW (WWW based instruction). Semua istilah tersebut menyiratkan penger-tian bahwa pembelajar terpisah dari pengajar secara jarak jauh, pembelajar menggunakan teknologi untuk mengakses bahan ajar, pembelajar mengguna-kan teknologi internet untuk berinteraksi dengan pengajar dan pembelajar yang lain, dan terdapat bantuan belajar yang disediakan bagi pembelajar. Anderson & Elloumi (2004) mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan internet untuk mengakses bahan ajar, berinteraksi dengan isi bahan ajar, pengajar dan peserta ajar lainnya, dan mendapatkan bantuan belajar selama proses pembe-lajaran, untuk dapat memperoleh pengetahuan, mengkonstruksi pemahaman, dan bertumbuh kembang melalui pengalaman belajar.
E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut.
a. E-Lectures.
E-Lectures merupakan fasilitas yang menyediakan presentasi mengenai konsep atau teknik esensial yang dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat disajikan berupa tampilan teks melalui perangkat lunak untuk presentasi (misalnya Powerpoint), atau presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan gambar.
b. Discussion Forum.
Discussion forum merupakan tempat interaksi antar pebelajar dengan pe-ngajar. Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan pebelajar yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi bilamana jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c. Ask an expert.
Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses pakar dalam materi yang diajarkan secara online.
d. Mentorship.
Fasilitas ini menyediakan pembimbing online mengenai materi yang spe-sifik.
e. Local learning facilitator or tutor support.
Penyediaan fasilitator lokal atau dosen lokal yang dapat memberikan per-emuan tatap muka.
d. Access to network resources.
Fasilitas ini berisikan bahan bacaan tambah-an yang relevan dengan mata kuliah.
e. Structured group activity.
Fasilitas ini berisikan kegiatan kelompok yang terstruktur seperti diskusi kelompok kecil, seminar, presentasi kelompok.
f. Informal peer interaction.
Fasilitas ini menyediakan tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau chatt-room.

Prinsip-prinsip belajar yang perlu diterapkan pada rancangan pembelajaran dalam e-learning adalah sebagai berikut ini.
(1) Dalam rancangan seyogyanya menghindari pengajaran yang bersifat terlalu menjelaskan (instructivist) untuk hal-hal yang kurang penting, tetapi memberikan tekanan yang lebih besar pada pendekatan belajar konstruktif.
(2) Pelajar disediakan lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi terbentuknya kelompok belajar sehingga pebelajar dapat memperoleh bantuan belajar melalui jaringan dalam kelompoknya.
(3) Pelajar disediakan kemudahan akses yang lebih besar untuk menghubungi staf akademik (pengajar) melalui jaringan elektronik.
(4) Pelajar disediakan kemudahan untuk melakukan penilaian diri (self-assesment) dan melakukan pemantauan kemajuan belajarnya.
(5) Kemudahan bagi pebelajar untuk memperoleh materi ajar dalam cara yang efektif dan memanfaatan kekayaan semua sumber belajar yang tersedia dalam jaringan, yang tidak mungkin diperoleh melalui penyajian di kelas konvensional.
Upaya membangun e-learning yang berlandaskan pada pemikiran teori belajar yang lebih bersifat holistik dilakukan oleh Dorn (2002). Kerangka berpikir yang ia ajukan ialah bahwa e-learning merupakan sistem adaptif yang dibentuk dan diubah melalui interaksi antar komponen dalam sistem tersebut. Ia mengidentifikasi empat komponen yang membentuk sistem e-learning, yaitu:
Pertama, peserta didik ialah individu atau sekelompok individu yang bermaksud belajar melalui bantuan pihak lain.
Kedua, sumber ialah segala sesuatu yang berada di luar peserta didik dari mana belajar dimungkinkan terjadi, misalnya: buku pegangan, buku teks, film, situs web, bangunan, awan, mesin, dan sebagainya.
Ketiga, konteks ialah lingkungan belajar yang berubah bilamana diterapkan e-learning; pengaturan pada e-learning akan mengontrol konteks atau lingkungan belajar tersebut.
Keempat, pengelola belajar, atau yang biasa disebut pengajar, ialah pihak
yang membantu belajar peserta didik, pengajar dapat berbentuk pengajar da-lam arti tradisional, teman atau kolega, sebaya atau yang lebih tua, atau pro-gram komputer yang memiliki sistem pakar pengajar.
Dorn menilai bahwa pembelajaran pada e-learning berbasis internet yang ada saat ini kebanyakan masih menerapkan rancangan yang mendasarkan pa-da peniruan peran guru pada pembelajaran tradisional. Dalam rancangan e-learning yang ia kembangkan, peran guru dimodifikasi dengan mendayagu-nakan kombinasi antara kecerdasan dan pengetahuan kelompok pebelajar yang terlibat dalam e-learning tersebut. Rancangan tersebut memanfaatkan melim-pahruahnya informasi dalam jaringan internet serta potensi pebelajar untuk mengorganisasikan belajar secara mandiri. Seperti yang dinyatakannya “The growth of the internet allows a range of different forms of interaction and means of information retrieval and knowledge sharing not afforded by traditional situated methods of education. (Dorn, 2002: 102). Selanjutnya, ia menyatakan bahwa e-learning merupakan lahan penelitian yang subur bilamana mem-perhatikan pendayagunaan potensi kelompok pebelajar dalam mengorganisasikan sendiri kegiatan belajarnya.
Suatu sistem e-learning yang dinamakan CoFind merupakan e-learning yang dibangunnya untuk dapat mengorganisasikan dirinya sendiri melalui ciri-ciri berikut ini:
(1) Topik.
Topik ialah pengetahuan atau perilaku yang dipelajari termasuk konsep, fakta dan prosedur. Topik tersebut diurutkan berdasarkan pilihan peserta, serta memperlihatkan topik mana yang paling populer pada suatu saat. Peserta dapat membuat topik sendiri. Topik-topik utama diajukan oleh pengelola belajar. Topik-topik akan berkembang dan menyesuaikan diri berdasarkan dinamika penilaian peserta.
(2) Forum Diskusi.
Wacana dalam forum diskusi diberi peringkat berdasarkan berapa banyak pembacanya dan penilaian kualitasnya oleh peserta. Frekuensi pembaca dan penilaian terhadap suatu wacana ditampilkan pada daftar wacana yang didiskusikan.
(3) Jadwal Kegiatan.
Peserta dapat melihat banyaknya peserta yang mengikuti suatu kegiatan dalam kalender kegiatan tersebut, sehingga kegiatan yang paling populer dapat diketahui bersama.
(4) Berita dan Pengumuman.
Tempat ini diisi oleh berita dan pengumuman yang berkaitan dengan kegiatan yang ada pada jadwal kegiatan serta undangan untuk membentuk kelompok.
(5) Daftar Peserta.
Indikator keaktifan peserta dapat dilihat pada daftar ini. Fasilitas untuk mengirimkan pesan pribadi kepada seorang peserta juga terdapat dalam tempat ini.
(6) Daftar Kelompok.
Daftar kelompok dapat diatur seperti daftar peserta. Peserta dapat mengirimkan pesan kepada kelompok tertentu dan menyusun jadwal kegiatan kelompok.
(7) Ruang untuk Omong-omong / Bercakap-cakap.
Pada tempat ini peserta dapat melakukan interaksi secara nyata dan mengorganisasikan sendiri kegiatan omong-omong / bercakap-cakap.
5. Evaluasi E-Learning
Evaluasi adalah proses pengumpulan dan analisis data mengenai suatu obyek untuk pengambilan keputusan mengani obyek tersebut. Kita mengenal evaluasi hasil belajar. Dalam hal ini, yang menjadi obyek evaluasi ialah hasil belajar siswa. Pengumpulan data dalam hal ini dilakukan melalui serangkaian ujian atau tes. Hasil ujian atau tes tersebut kemudian diolah untuk memutuskan apakah siswa tersebut lulus atau tidak, naik kelas atau mengulang kelas. Dalam evaluasi, yang menjadi obyek dapat berupa orang, benda, idea, program, kegiatan, atau alternatif.
Jenis keputusan yang dilaksanakan akan menentukan jenis evaluasi. Evaluasi formatif berkaitan dengan keputusan untuk perbaikan. Evaluasi sumatif berkaitan dengan keputusan akhir terhadap suatu obyek yang dievaluasi. Contoh evaluasi formatif ialah pengumpulan dan analisis data yang diperoleh melalui ulangan harian mengenai suatu topik materi ajar yang digunakan untuk memutuskan apakah materi ajar tersebut diulang pengajarannya dengan perbaikan pada cara penyampaian atau tidak perlu diulang. Sedangkan contoh evaluasi sumatif ialah pengumpulan dan analisis data yang diperoleh melalui ujian akhir. Keputusan yang dibuat dari evaluasi sumatif ini adalah final, apakah siswa lulus atau tidak lulus.
Evaluasi e-learning merupakan evaluasi terhadap program pembelajaran yang dilaksanakan berbasis internet. Beberapa kriteria yang digunakan untuk evaluasi e-learning ialah: (1) kriteria organisasi, (2) kriteria teknis, (3) kriteria rancangan pembelajaran, (4) kriteria latihan dan umpan balik, (5) kriteria penggunaan, (6) kriteria media, (7) kriteria navigasi dan kendali, (8) kriteria motivasi, dan (9) kriteria kolaborasi dan konstruktif.

Sumber http://dikporaplg.com
Read More...

Pendidikan Karakter

oleh: Ratna Megawangi

Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa sistem pendidikan di Indonesia sebetulnya hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi, atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik (ukuran IQ tinggi). Hal ini terlihat dari bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa saja, yang sering diukur dengan kemampuan logika-matematika dan abstraksi (kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi – atau ukuran IQ).

Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan, karena berdasarkan teori Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya. Sistem pendidikan kita sebenarnya mengacu kepada sistem yang dipakai Amerika Serikat (AS), yang dikembangkan terutama sebagai reaksi AS terhadap keberhasilan Uni Soviet meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik pada tahun 1957. Para pemimpin AS saat itu “panik”, sehingga segera mereformasi sistem pendidikannya agar lebih berorientasi pada penyiapan siswa untuk memasuki ke perguruan tinggi serta menitikberatkan pada kemampuan akademik siswa agar para lulusan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). AS memang telah berhasil mengembangkan IPTEK, dan kualitas perguruan tinggi di AS menjadi paling unggul di dunia.

Namun, trategi pendidikan ini dikritik - terutama oleh Lester Thurow, seorang ekonom dari MIT (perguruan tinggi terkenal di AS) - sebagai strategi yang “salah” dalam menghadapi persaingan global. Thurow mengatakan bahwa strategi ini lebih mementingkan bagaimana menyiapkan 10 persen terpandai dari penduduk AS, karena yang akan berhasil hingga jenjang pendidikan tinggi untuk menguasai IPTEK hanyalah mereka yang mempunyai potensi akademik tinggi (IQ di atas 120). Hukum alam selalu menunjukkan bahwa dimana pun di muka bumi ini, yang memiliki IQ di atas angka tersebut (di atas 120) tidak lebih dari 10 persen penduduk.

Namun sebaliknya, sebagian besar penduduk adalah mereka yang kecerdasannya bukan pada dimensi akademik (ilmuwan, pemikir, dan ahli strategis), tetapi dimensi-dimensi lainnya – misalnya pekerjaan teknisi, musisi, manual (motorik), artis, atau hal-hal lain yang sifatnya “lebih konkrit”.Kualitas produksi barang dan jasa pun sangat tergantung pada kualitas segmen penduduk yang mayoritas ini. Tantangannya adalah apakah penduduk mayoritas ini sudah dipersiapkan untuk dapat bekerja secara profesional sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi?
Distribusi IQ dari Setiap Populasi berdasarkan Studi yang Dikompilasikan oleh University of Maine, USA IQ
Range 0-70 = 2.27% (Mentally Retarded)
IQ Range 71-84 =13.59%
IQ Range 85-115 = 68.26% (Average)
IQ Range 116-129 = 13.59%
IQ Range 130 & > = 2.27% (Gifted)
Menurut Thurow, dalam hal kualitas produksi, negara AS kalah dengan Jepang karena strategi pendidikan di Jepang lebih mementingkan bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional - yang merupakan bagian terbesar dari penduduk. Berbeda dengan AS yang lebih mementingkan 10 persen siswa terpandai, strategi pendidikan Jepang justru sebaliknya, yaitu terutama menyiapkan 50 persen siswa terbawah (dalam skala IQ) untuk menjadi tenaga kerja yang handal. Sedangkan mereka yang sangat tinggi kemampuan akademisnya (yang populasinya tidak lebih dari 15 %), akan masuk ke jenjang perguruan tinggi setelah menempuh ujian saringan perguruan tinggi yang sangat sulit (sering disebut “neraka ujian”). Dengan strategi seperti ini, maka terlihat bahwa sistem pendidikan di Jepang - terutama pendidikan dasar - dianggap relatif tidak sulit dan menyenangkan bagi anak-anak.

Berbeda dengan Jepang, sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya justru menyiapkan seluruh siswa untuk dapat menjadi ilmuwan dan pemikir (filsuf), sehingga seluruh mata pelajaran dirancang sedemikian rupa sulitnya, sehingga hanya dapat diikuti oleh 10 sampai 15 persen siswa terpandai saja atau mereka yang mempunyai IQ di atas 115. Memang, beberapa siswa Indonesia bisa berprestasi mendapatkan hadiah olimpiade, namun dapat dipastikan bahwa mereka adalah bagian dari top 0.1% tingkat IQ tertinggi saja (bukan cerminan dari kondisi seluruh siswa Indonesia). Sudah puluhan tahun energi bangsa kita terbuang sia-sia untuk menciptakan manusia Indonesia yang menguasai IPTEK dengan segala beban kurikulum yang luar biasa beratnya.
Padahal, jika potensi (IQ) siswa hanya 90 atau 100, diberi pelajaran tambahan berapa pun, tidak akan bisa meningkatkan hingga 120. Seandainya energi kita lebih difokuskan pada bidang keterampilan untuk menyiapkan 85 persen penduduk agar mereka siap dan terampil bekerja secara profesional, mencintai pekerjaannya dan berkomitmen pada kualitas produksi yang tinggi, mungkin kondisi Indonesia tidak akan separah sekarang. Apa yang telah kita tanam selama ini, ternyata membuahkan hasil. Kualitas SDM (Human Development Index) Indonesia sekarang berada di bawah Vietnam, atau nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Hasil Survei PERC di 12 negara juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah, satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil survey matematika di 38 negara Asia, Australia, dan Afrika oleh TIMSS-R, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 34.
Mengapa kualitas SDM kita sedemikian buruknya? Penyebabnya adalah para pemimpin kita sejak Indonesia merdeka tidak mempunyai visi dan strategi yang jitu dalam membawa bangsa Indonesia ke depan. Jepang dan Jerman, misalnya, mempunyai strategi utama untuk mencetak tenaga kerja handal, yaitu dengan mendidik 60 persen penduduk terbawah dengan pendidikan keterampilan. Di sisi lain, mereka tetap menyadari bahwa untuk mencetak manusia yang menguasai IPTEK hingga mampu menciptakan teknologi baru, perlu pendidikan yang tepat bagi 15 persen terpandai (brain power) sehingga mereka siap masuk ke jenjang perguruan tinggi.

Namun setiap teknologi baru dapat ditiru dan dapat diproduksi di mana saja. Sedangkan pekerja yang terampil dan handal - ujung tombak yang menjadi tangan-tangan produktif untuk menghasilkan produk teknologi apa saja - merupakan kelebihan (comparative advantage) yang sulit untuk ditiru. AS merupakan negara penemu teknologi kamera, recorder, dan mesin faks, tetapi sekarang produk-produk tersebut sudah menjadi unggulan Jepang. Jerman dan Jepang terkenal dengan apprentice system (keterampilan) yang handal, sehingga produk-produk merekaterk enal paling bagus kualitasnya di dunia, karena dikerjakan oleh para pekerja yang terampil, pekerja keras, percaya diri dengan kemampuannya dan mempunyai kualitas karakter lainnya yang mendukung.
Mereka adalah para pekerja manual, bukan saintis atau ilmuwan! Tentu saja Jerman dan Jepang juga memperhatikan perguruan tinggi untuk menampung 15 persen penduduk terpandai (yang daya abstraksi dan analitiknya tinggi).Namun demikian, tidak dengan cara memaksakan target perguruan tinggi - supaya menjadi ilmuwan kepada 85 persen lainnya. Apabila strategi pendidikan ditujukan untuk menciptakan para pekerja yang handal (yang meliputi 85 % penduduk), maka fokus pendidikan harus lebih memperhatikan penyiapan anak didik sehingga siap bekerja dan terampil selepas SLTA atau bahkan SLTP, tergantung bidang-bidang keterampilannya. Namun kenyataannya, mayoritas siswa Indonesia sejak usia SD sudah habis energinya mengikuti pelajaran yang dirancang supaya mereka tidak mampu mengikutinya.
Selain itu, metode pembelajaran di kelas banyak yang menyalahi teori-teori perkembangan anak. Hasilnya adalah generasi yang tidak percaya diri (apalagi kalau divonis dengan sistem ranking di sekolah), sehingga sempurnalah pencetakan SDM Indonesia yang berada di urutan terbawah; tidak bisa bekerja, tidak terampil, tidak percaya diri, dan tidak berkarakter. Mereka tumbuh dikondisikan oleh sebuah sistem yang salah. Aspirasi siswa yang keliru sejak dini sudah terbentuk, yaitu tidak menghargai pekerjaan manual yang memerlukan keterampilan, kerajinan, dan ketekunan. Dalam hal ini, termasuk juga mereka yang memasuki sekolah kejuruan (SMK), yang umumnya tidak mempunyai gairah untuk mencintai bidang keterampilannya karena merasa dicap bodoh, terlebih jika lingkungannya menganggap bahwa simbol keberhasilan adalah memiliki gelar kesarjanaan – bukan memiliki keterampilan kerja.
Selain itu, karena tujuan pendidikan diarahkan untuk mencetak anak pandai secara kognitif (yang menekankan pengembangan otak kiri saja dan hanya meliputi aspek bahasa dan logis-matematis), maka banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian, musik, imajinasi, dan pembentukan karakter) kurang mendapatkan perhatian (mengenai bahasan multiple intelligences sembilan aspek kecerdasan). Kalaupun ada, maka orientasinya pun lebih kepada kognitif (hafalan), tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan kegairahan untuk belajar dan mendalami materi lebih lanjut. Celakanya, pendekatan yang terlalu kognitif telah mengubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai tinggi. Hal ini dapat mendorong para siswa untuk mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur, seperti mencontek, menjiplak, dan sebagainya.
Mata pelajaran yang bersifat subject matter juga makin merumitkan permasalahan karena para siswa tidak melihat bagaimana keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya, serta tidak relevan dengan kehidupan nyata. Akibatnya, para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata. Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial, terkotak-kotak, yang menurut David Orr adalah akar dari permasalahan yang ada :“Isu-isu terbesar saat ini pasti berakar dari kegagalan kita untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan. Kegagalan tersebut terjadi ketika kita terbiasa berpikir secara terkotak-kotak dan tidak diajarkan bagaimana untuk berpikir secara keseluruhan dalam melihat keterkaitan antar kotak-kotak tersebut, atau untuk mempertanyakan bagaimana suatu kotak (perspektif) dapat terkait dengan kotak-kotak lainnya.” (David Orr) Hal yang sama diungkapkan oleh Fitjrof Capra bahwa betapa pengetahuan manusia tentang sains, masyarakat, dan kebudayaan telah begitu terkotak-kotak, sehingga manusia tidak mampu melihat gambar keseluruhan (wholeness) dari setiap fenomena.

Akibatnya banyak solusi yang dilakukan manusia dalam menghadapi berbagai segi kehidupan manusia didekati pula secara fragmented (parsial), sehingga tidak dapat memperbaiki masalah, tetapi justru semakin memperburuknya. Inti pemikiran Fitjrof Capra adalah menekankan pentingnya untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan : “multidisciplinary, holistic approach to reality ”.
Apabila dalam dunia fisika paradigma telah bergeser dari pendekatan mekanistik dan terfragmentasi dalam menelaah partikel-partikel benda mati ke arah pendekatan menyeluruh, maka sudah seharusnya pendekatan yang sama diterapkan dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, terutama yang menyangkut bagaimana mempelajari manusia dan semua unsur-unsur peradabannya. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan reformasi pendidikan ke arah yang lebih kondusif untuk terciptanya kualitas SDM yang berkualitas, terutama melalui pengenalan konsep pendidikan holistik (menyeluruh). Tujuan pendidikan holistik, seperti yang dikatakan oleh J. Krishnamurti, adalah “The highest function of education is to bring about an integrated individual who is capable of dealing with life as a whole”(Fungsi terpenting pendidikan adalah menghasilkan manusia yang terintegrasi, yang mampu menyatu dengan kehidupan sebagai satu kesatuan). Sizer dan Sizer (1999) mengatakan bahwa tujuan pendidikan selain untuk mempersiapkan manusia untuk masuk ke dalam dunia kerja, adalah untuk membuat manusia dapat berpikir secara menyeluruh serta menjadi manusia yang bijak (thoughtful and decent human being). Sejak 2500 tahun yang lalu Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart”.
Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik (beramal shaleh), dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. Seperti menurut Socrates: "Then the man who's going to be a fine and good guardian of the city for us will in nature be philosophic, spirited, swift, and strong " Pengembangan Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Oleh Indonesia Heritage FoundationIndonesia Heritage Foundation adalah yayasan yang bergerak dalam bidang Character Building (Pendidikan Karakter) yang mempunyai visi “Membangun Bangsa Berkarakter” melalui pengkajian, dan pengembangan pendidikan holistik dengan fokus menanamkan 9 pilar karakter.
Adapun 9 pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari:
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian
3. Kejujuran
4. Hormat dan Santun
5. Kasih Sayang, Kepedulian, dan Kerjasama
6. Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah
7. Keadilan dan Kepemimpinan
8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Cinta Damai, dan Persatuan
Kurikulum yang digunakan adalah “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based ntegrated Curriculum), yaitu kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak. Sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual. Bidang-bidang pengembangan yang ada di TK dan mata pelajaran yang ada di SD yang dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat teranyam dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (Holistik). Pembelajaran holistik terjadi apabila kurikulum dapat menampilkan tema yang mendorong terjadinya eksplorasi atau kejadian-kejadian secara autentik dan alamiah.
Dengan munculnya tema atau kejadian yang alami ini akan terjadi suatu proses pembelajaran yang bermakna dan materi yang dirancang akan saling terkait dengan berbagai bidang pengembangan yang ada dalam kurikulum.Pembelajaran holistik berlandaskan pada pendekatan inquiry dimana anak dilibatkan dalam merencanakan, bereksplorasi dan berbagi gagasan. Anak-anak didorong untuk berkolaborasi bersama teman-temannya dan belajar dengan “cara” mereka sendiri. Anak-anak diberdayakan sebagai si pembelajar dan mampu mengejar kebutuhan belajar mereka melalui tema-tema yang dirancang.

Sebuah pembelajaran yang holistik hanya dapat dilakukan dengan baik apabila pembelajaran yang akan dilakukan alami-natural-nyata-dekat dengan diri anak, dan guru-guru yang melaksanakannya memiliki pemahaman konsep pembelajaran terpadu dengan baik. Selain itu juga dibutuhkan kreativitas dan bahan-bahan/sumber yang kaya serta pengalaman guru dalam berlatih membuat model-model yang tematis juga sangat menentukan kebermaknaan pembelajaran.
Read More...

Pendidikan Sekarang dan Masa Depan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.

Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dalam rangka merealisasikan `learning to know`, Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat.

learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal.

Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses “learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut.

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini.

Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu:

(1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan);

(2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat pendidikan daerah?;

(3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran);

(4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?;

(5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?;

(6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi);

(7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?.

Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, menerapkan konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri. Perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah, misalnya kelompok pakar, paguyuban mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat daerah, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.

Sumber: www.pendidikan.net
Penulis: M. Sobry Sutikno (Mahasiswa S.3 UNJ / Direktur Eksekutif YNTP Research and Development NTB)
Read More...

Selasa, 01 Juni 2010

Membuat Ubuntu tampil seperti Windows



Pertanyaan yang mungkin pertama kali muncul adalah : “Kenapa?”, atau “Buat apa?”

Jawabannya mudah: Untuk membantu pengguna Ubuntu yang baru pindah dari platform Windows :-)

Pertanyaan yang lebih spesifik mungkin adalah : “Kenapa sampeyan juga ingin desktop seperti Windows ?”

Laptop : Macbook
Operating System : Ubuntu 9.10
Desktop Theme : Windows XP

Sudah bingung ? :)

Nah, yang ini jawabannya adalah :

(1) Karena saya bisa melakukannya : Ubuntu / Linux bisa dimodifikasi secara ekstrim oleh kita. Sangat fleksibel. Dan menurut saya, di platform Linux, maka tampilan seperti Windows adalah salah satu ekstrimitas yang paling ekstrim yang bisa kita temui :D

(2) Ingin membuat bingung orang lain : saya menggunakan Laptop Macbook,
yang kemudian saya pasangi Ubuntu 9.10 (ya, Mac OS nya saya hapus dari laptop),
dan lalu saya pasangi theme Windows XP

Yang melihat laptop saya pasti kemudian bakalan pusing – Ini Windows XP ?? atau Mac OS X ???
Eh, ternyata Ubuntu / Linux tho ?? :D

Ingin iseng seperti saya juga ? Caranya mudah sekali :

1. Klik URL berikut ini : http://ubuntu.online02.com/node/14
2. Download paket theme yang ada disitu : http://ubuntu.online02.com/files/XP_Gnome.tar.gz
3. Extract, dan lalu jalankan script InstallXpGnome.sh

Selesai ! Gampang sekali ya ?
Read More...

Cara Mempercepat Browser Mozilla

1. Aktifkan Pipelining
Biasanya browser bekerja dengan mengirimkan permintaan kepada server dan menunggu respon sebelum melanjutkan proses. Pipelining adalah sebuah teknik lebih agresif yang memungkinkan browser untuk mengirimkan beberapa permintaan sekaligus sebelum menerima respon apapun untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengunduh isi halaman. Untuk mengaktifkan fungsi ini ketik “about:config” pada kotak alamat, klik-ganda pada “network.http.pipelining” dan “network.http.proxy.pipelining” agar nilainya berubah menjadi “true” kemudian klik-ganda pada “network.http.pipelining.maxrequest” dan jadikan nilainya “8″.

2. Render dengan Cepat
Situs yang besar dan rumit bisa memakan waktu untuk diunduh. Firefox tidak ingin membuat Anda menunggu, jadi dengan pengaturan standar Firefox akan langsung menampilkan apa yang ia terima setiap 0,12 detik. Walaupun hal ini membuat browser terkesan lebih cepat, rendering ulang yang dilakukan terus menerus meningkatkan waktu total yang dibutuhkan untuk menampilkan halaman, kita dapat mengurangi jumlah rendering ulang untuk meningkatkan kinerja.
Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], kemudian klik kanan pada tampilan utama dan kemudian pilih “New > Integer”. Ketik “content.notify.interval” sebagai nama preferensi Anda, klik “ok”, masukkan “500000″ (500 ribu) dan klik “ok” kembali.
Klik kanan lagi pada tampilandan pilih “New > Boolean”. Kali ini buat nilai disebut “content.notify.ontimer” dan atur menjadi “True” untuk menyelesaikan tugas Anda.

3. Loading Lebih Cepat
Jika Anda tidak menggerakkan tetikus atau menyentuh keyboard selama 0,75 detik, Firefox akan masuk ke dalam mode “low frequency interrupt” yang artinya interface-nya menjadi kurang responsif tetapi bisa me-load halaman lebih cepat.
Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], klik kanan pada tampilan dan pilih “New > Integer”. Ketik “content.switch.threshold”, klik “ok”, masukkan “250000″ (seperempat detik) dan klik “ok” untuk menyelesaikan.

4. Tidak Ada Interupsi
Anda bisa melakukan langkah lebih jauh dengan memberitahu Firefox untuk sama sekali mengabaikan user interface events sampai halaman selesai diunduh. Memang cara ini agak ekstrim karena Firefox bisa menjadi tidak responsif selama beberapa waktu, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba apakah efeknya positif untuk Anda.
Ketik “about:config”, tekan [ENTER] dan klik kanan, pilih “New > Boolean”. Ketik “content.interrupt.parsing”, klik “ok”, atur nilainya menjadi “False” dan klik “ok”.

5. Tingkatkan Ukuran Cache
Ketika berselancar Firefox akan menyimpan gambar dan skrip pada memory cache lokal di mana Anda bisa mempercepat pengambilan data jika mengunjungi situs yang sama kembali. Jika Anda memiliki RAM yang besar (2GB atau lebih), biarkan Firefox berjalan lebih lama sehingga mengunjungi kembali halaman-halaman situs akan lebih cepat, terutama dengan cache yang besar.
Ketik “about:config” dan tekan [ENTER], kemudian klik kanan dan pilih “New > Integer”. Ketik “browser.cache.memory.capacity”, klik “ok”, masukkan “65536″ dan klik “ok”, kemudian “restart” browser untuk mendapatkan cache yang baru dan lebih besar.

6. Aktifkan TraceMonkey
TraceMonkey adalah engine Javascript baru dari Mozilla yang super cepat, dalam beberapa benchmark bahkan mencetak nilai 40x lebih besar dibandingkan versi saat ini. Tracemonkey mungkin saat ini memang dalam tahap pengembangan dan masih sedikit buggy, tetapi jika Anda berkeberatan menggunakan perangkat lunak dalam tahap pengembangan, dapatkan nightly build terbaru dari (ftp://ftp.mozilla.org/pub/firefox/nightly/latest-trunk/). Versi beta pertama Firefox 3.1 juga dijadwalkan untuk dikeluarkan bulan ini juga.
Ketik “about:config” pada kotak alamat dan tekan [ENTER]. Ketik “JIT” pada kotak filter, lalu klik ganda “javascript.options.jit.chrome” dan “javascript.options.jit.content” untuk mengubah nilainya menjadi “true”. Selamat!, kini Anda telah menggunakan engine Javascript mutakhir Firefox.

7. Kompres Data
Jika Anda memiliki koneksi internet lambat, mungkin Anda merasa bahwa Firefox tidak berkinerja baik. Itu tidak sepenuhnya benar! Instalasikan toonel.net dan aplikasi Java ini akan mengambil alih trafik internet Anda melalui server-nya sendiri. Semua data yang melalui server Toonel lalu dikompres sehingga data yang perlu diunduh browser lebih sedikit.
Bahkan, Toonel juga bisa mengompres gamar JPEG, tetapi tentunya berdampak pada penurunan kualitas gambar. Tips ini berguna untuk memangkas jumlah data yang dikirimkan, bermanfaat jika memiliki akun internet yang terbatas per bulan atau saat menggunakan koneksi internet yang lambat seperti GPRS.

Install Add-On penting :
1. Adblock Plus
Untuk blok banner ataupun alert yang dirasa mengganggu aktifitas browsing kita, dapat didownload disini
2. Faster Fox
Untuk mempercepat kinerja browsing, dan yang paling mantap dari aplikasi ini adalah Auto Loading Next Page, dapat didownload disini
3. Memory Fox
Untuk membatasi penggunana memory kompie saat kita berselancar dengan mozilla (Mozilla kan dikenal sebagai browser Handal tetapi sangat banyak menggunakan memory saat aplikasi dijalankan!!), dapat didownload disini
*dan Add-On lainnya, dapat dlihat sendiri sesuai dengan kebutuhan pengguna browser. ?
Read More...

Ubah Bahasa


English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pengunjung

msn spaces stats

Yang Berkunjung

free counters

Yang Lagi Online

Yang Online Hari ini

Facebook

 

Reader Community

Galery Photo