Posts Subscribe to This BlogComments

Follow Us

New Articles

1 2 3 4 5 6 7 8

Rabu, 30 Juni 2010

Menciptakan Suasana Kelas Serius tapi Santai

Profesi Guru
Rekan-rekan semuanya khususnya para guru-guru seluruh indonesia. Tak bisa di pungkiri bahwa profesi sebagai guru bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sangat diragukan keseriusanya berprofesi sebagai guru apabila seorang guru itu memiliki banyak waktu luang untuk bersantai ria dan bermain-main. bahkan apabila kita sedikit melihat apa yan dimaksud dengan profesi guru didalam Undang-Undang Guru dan Dosen betapa sangatlah berat untuk menjadi seorang guru itu. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, salah satu yang paling penting adalah performance guru di kelas. Bagaimana seorang guru dapat menguasai keadaan kelas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Pada dasarnya guru adalah seorang pendidik. Pendidik adalah orang dewasa dengan segala kemampuannya berusaha untuk mengubah psikis dan pola pikir anak didiknya dari tidak tahu menjadi tahu dan mendewasakan anak didiknya agar dapat mencermati segala fenomena atau persoalan yang ada dengan analisis keilmuannya. Pendidik atau guru memiliki tanggung jawab yang tidak begitu ringan dalam dunia pendidikan ini. Karena itulah, pendidik atau guru berjuang dengan semangat tinggi dan etos kerja yang optimal untuk mewujudkan hasil final yang diinginkan dari tanggung jawab tugasnya agar dapat terlaksana dengan baik.

Guru Sebagai Pendidik
Sebenarnya apa hasil final dari tanggung jawab tugas pendidik atau guru itu? Jawabannya adalah mengantarkan anak didiknya menjadi orang yang berhasil dan sukses dalam keilmuannya serta anak didiknya mampu mengaplikasikan keilmuan yang diberikan padanya dalam masyarakat dan negaranya demi sebuah kemajuan diri. Untuk mencapai tujuan itu, seorang pendidik atau guru tidak cukup hanya dibekali dengan keilmuan akademik saja, maksudnya pintar di bidang kajian keilmuannya saja, tetapi lebih dari itu pendidik atau guru juga harus dibekali keilmuan lain seperti keilmuan dalam metode dan teknik mengajar yang baik, terutama metode dan teknik menguasai situasi kelas dalam proses belajar mengajar. Karena itu bila saja pendidik atau guru tidak mampu menguasai situasi kelas maka otomatis pendidik atau guru tersebut tidak mampu mentransferkan ilmu pengetahuannya secara maksimal kepada anak didiknya. Dikarenakan anak didiknya tidak benar-benar memperhatikan apa yang diberikannya itu. Oleh karena itulah, pendidik atau guru harus mampu menguasai situasi kelas sedini mungkin agar dalam pentransferan ilmu pengetahuan itu dapat diterima anak didiknya dengan baik dan lancar. Dari itulah menguasai situasi kelas bagi guru sangatlah penting.
Untuk dapat menguasai situasi kelas yang baik bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang guru. Perlu berbagai cara dan metode yang harus dilaksanakan. Bahkan ada yang telah menggunakan metode Personal Communication sampai Team Communication. Tetapi ada juga yang menggunakan metode Personal Approach, yaitu metode yang mengadakan pendektan diri pada anak didiknya melalui sikap interaksi langsung antarindividu dan mereka juga harus mengevaluasi dirinya untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengan apa yang diinginkan anak didiknya. Hal itu akan berjalan baik tergantung pada interaksi yang dilakukannya.

Namun ada satu metode sederhana yang bisa dilakukan pendidik atau guru dalam menguasai situasi kelas, yaitu Metode Tiga S. Metode Tiga S meliputi:

1. S pertama berarti Serius. Seorang pendidik atau guru harus mampu menciptakan gaya atau suasana dalam ruangan kelas belajarnya yang dapat menimbulkan perhatian anak didiknya untuk serius memperhatikan dan menerima pelajaran yang disampaikannya secara baik. Keseriusan disini bukanlah membuat anak didiknya tegang dan bertambah ribut, seperti takut melihat wajah gurunya. Tetapi keseriusan di sini membuat anak didiknya energik dan bersemangat. Karena itu, semampunya guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman, segar, mengenakkan, dan fresh untuk anak didiknya dalam proses belajar mengajar dengan tidak mengabaikan keseriusan itu. Suasana belajar seperti itu bisa diciptakan oleh guru dengan sikapnya seperti perhatian terhadap setiap anak didiknya, murah senyum yang menunjukkan keramahannya, tidak mudah marah, menghormati anak didiknya, menghargai setiap anak didiknya, sabar, dan bersuara lemah lembut dan berirama yang teratur dalam menyampaikan materi pelajaran yang merupakan modal utama yang mahal untuk kesuksesan dalam pentransferan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Selain itu guru harus mampu menghindarkan dirinya dari hal-hal berikut ini yang menyebabkan keharmonisan situasi kelas menjadi terganggu. Hal-hal tersebut yaitu, guru mudah marah atau lekas marah, suka membentak-bentak, suka menghina atau mencerca anak didiknya, mengatakannya bodoh selalu, merendahkan martabat diri anak didiknya, mengkritik anak didiknya terlalu berlebihan melebihi batas standar norma yang berlaku dalam pembelajaran dan guru suka sekali membeberkan kesalahan-kesalahan anak didiknya melampaui batas. Ha-hal yang baik-baik harus betul-betul disadari oleh guru dan guru tersebut dapat menerapkannya serta terus berusaha menghindari hal-hal jelek tersebut dalam pembelajaran demi menciptakan situasi kelas yang akan disenangi anak didiknya. Hal-hal yang tersebut di atas merupakan cerminan dari kepribadian guru yang matang dalam pembelajaran dan tidak ruginya kalau guru memilikinya.
2. S kedua yang berarti Santai. Santai di sini bukanlah berarti guru memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melakukan kegiatan dalam proses belajar mengajar sesantai-santainya sehingga melupakan tujuan yang telah dirumuskan atau melanggar batas norma yang telah ditetapkan. Bukan berarti guru memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melanggar hak asasi manusia. Bukan itu. Santai di sini maksudnya adalah guru mampu membuat anak didiknya menjadi santai dan rileks, tidak takut dan tegang dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru tersebut. Hal itu bisa ditunjukkan oleh seorang guru kepada anak didiknya dengan menunjukkan gaya yang tidak mengekang, tetapi dengan gaya guru yang santai dan bersahaja, bersahabat, interaktif, simpatik, dan komunikatif. Bisa juga santai di sini berarti guru harus mampu menyelingi kegiatan belajar mengajarnya dengan seloroh atau humor (sense of humor). Humor ini bisa diciptakan seorang guru lewat permainan kata-kata atau kata plesetan, dan dari gerak tubuh guru yang menciptakan kelucuan. Menciptakan humor tidak semua guru mampu melakukannnya. Tetapi kalau guru mau mencoba, bisa saja humor tersebut dimilikinya. Bisa dia belajar melalui buku-buku humor atau belajar sendiri menciptakan humor dan bisa melalui teman sejawat. Menciptakan humor bagi seorang guru dalam menyelingi pelajaran yang disampaikan sangatlah perlu. Karena humor dapat dimanfaatkan sebagai penetralisasi ketegangan urat syaraf berpikir anak didiknya menjadi segar dan normal seperti sediakala. Jika urat syaraf berpikir anak didiknya normal, segar, dan fresh maka akan terciptalah keinginan anak didiknya yang bersemangat dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru tersebut.
3. S yang ketiga berarti Selesai. Rentetan ini adalah rentetan terakhir dari Metode Tiga S yang sederhana ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam pentransferan ilmu pengetahuan yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar akan menuju pada suatu stasiun pencapaian terakhirnya, yaitu selesai. Selesai di sini merupakan hasil yang harus diperoleh dari proses belajar mengajar yang dilakukannya. Tentu hasil belajar mengajar ini diperolehnya sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan oleh tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut.

Metode Tiga S ini memiliki proses penerapannya secara berkesinambungan antara bagian yang satu dengan bagiannya yang lain. Mereka itu saling berkaitan dengan tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu sekiranya ada guru yang ingin menerapkan Metode Tiga S dalam lingkungan belajar mengajar demi menciptakan situasi kelas yang nyaman untuk anak didiknya maka guru itu harus mampu menerapkan Metode Tiga S secara berurutan dari awal sampai akhirnya dan jangan sampai menghilangkan salah satu bagian komponen Metode Tiga S itu. Di samping itu, dengan adanya Metode Tiga S yang sederhana ini mudah-mudahan dapat membuka cakrawala berpikir guru agar lebih giat dan aktif untuk mencari dan menemukan metode dan teknik menguasai situasi kelas yang lebih baik dari Metode Tiga S ini demi sebuah tujuan, yaitu memajukan pendidikan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Sumber : Lebih Jelasnya Disini
Read More...

Senin, 28 Juni 2010

Perlunya Penanaman Budi Pekerti kepada Anak Sedini Mungkin

Kontek tentang budi pekerti ternyata sekarang menjadi perhatiann oleh banyak orang, setelah lama kita tak menyentuh permasalahan budi pekerti, besar harapan orang tua sewaktu akan menyekolahkan anaknya, agar nantinya akan menjadi anak yang tumbuh dan besar menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi, kemudian banyak pemerhati yang membuka wacana tentang budi pekerti, tetang bagaimana sebaiknya pedidikan dalam rangka penanaman budi pekerti, apa substansi pokok pendidikan budi pekerti, bagaimana kedudukanya, bagaimana penerapannya dalam proses belajar mengajar dan bagaimana peranan pendidiknya.

Sebenarnya tanggung jawab pendidikan budi pekerti bukan hanya dipihak sekolah saja, akan tetapi yang pertama yaitu keluarga, lingkungan, masyarakat juga harus berperan aktif, ketika sianak memasuki bangku sekolah, peranan pendidik melanjutkan dan mambantu peningkatan apa yang sudah dilakukan orang tua didalam keluarga karena waktu yang terbanyak adalah dilingkungan keluarga, maka pendidikan budi pekerti harus sudah dimulai dari keluarga oleh orang tuanya terlebih dahulu sehingga jika ada persepsi bahwa tanggung jawab penanaman budi pekerti hanya pada sekolah jelas keliru.

Keprihatinan.

Sebenarnya kita berangkat dari sebuah keprihatinan yang sedang terjadi sekarang yaitu jika kita melihat pekembangan ramaja dimasyarakat, kita sangat prihatin, banyak sekali kasus yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya jika budi pekerti sudah tertanam pada mereka sedini mungkin, sebagai contoh ada siswa berani pada guru, pada orang tua, perkelahian antar pelajar bahkan ada yang berani melakukan kejahatan.

Berpijak dari hal tersebut, maka marilah kita coba menyimak masalah budi pekerti menjadi sebuah wacanan yang menarik, yang perlu kita cermati Bersama-sama,

Ada tiga kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah sebagai pedoman Departemen Pendidikan Nasional, yaitu : peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan taknologi, pendidikan budi pekerti, dan pengambangn baca tulis,

Penanaman budi pekerti sebaiknya dimasukan pada kurikulum, agar nantinya pada siswa tertanam sikap moral, sosial, serta budi pekerti yang tinggi. Bahwa sebenarnya komitmen bangsa kita terhadap pendidikan budi pekerti cukup kuat, sepanjang sejarah budi pekerti selalu menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah.

Dalam aplikasi pendidikan budi pekerti, pemerintah tidak menjadi pendidikan budi pekerti menjadi salah satu mata pelajaran tetapi mengintegrasikannya ke dalam mata pelajaran yang telah diajarkan disekolah, hal ini untuk mengindari penekanan yang berlebihan pada aspek kognitif.

Budi pekerti merupakan masalah yang pelik, bahkan sering dianggap sebagai sesuatu yang absrak karena konsep budi pekerti balum terungkap secara operasional.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, budi pekerti adalah tingkah laku, perangai akhlak ataupun watak. Sikap dan tingkah laku sesorang tercermin dalam kegiatan hidup kesehariannya seperti tampak dalam hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan keluarga, hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan alam sekitar.

Dalam buku Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur (Balai Pustaka., 1997) terdapat 56 sikap budi pekerti luhur yaitu : bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikir jauh kedepan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, tekun, tepat janji, terbuka, dan ulet.

Menurut Edi Sedyawati (1997), sikap dan perilaku budi pekerti mengandung lima jangkauan, yaitu :

1. Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan, yaitu setiap manusia Indonesia harus kenal, ingat, berdo’a dan bertawakal kepada Tuhannya, dalam rangka pembentukan budi pekerti yang didasarkan pada keagamaan.
2. Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan diri sendiri, yaitu setiap manusia Indonesia harus mempunyai jatidiri, agar seseorang akan mampu menghargai dirinya sendiri karena mempunyai konsep diri yang positip.
3. Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan keluarga, yaitu seseorang tidak mungkin hidup tanpa lingkungan social yang terdekat yang mendukung perkembangannya, yaitu keluarga. Untuk itu perlu suatu penyesuaian diri diantara nilai yang diyakini dengan nilai yang berlaku dalam keluarga.
4. Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan masyarakat dan bangsa, yaitu sikap dan perilaku ini merupakan sikap penyesuaian diri yang diperlukan terhadap lingkungan yang lebih luas, tempat ia dapat lebih mengekspresikan dirinya secara lebih luas setelah ia dewasa.
5. Sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar, yaitu seseorang tidak bertahan hidup tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai, serasi dan tepat seperti yang dibutuhkannya. Untuk itulah terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi demi menjaga kelestarian dan keserasian antara hubungan manusia dan alam sekitar.

Demikian betapa idealnya tata/norma tersebut apabila dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada anak didik kita dan betapa mulianya perilaku yang demikian tadi, akan tetapi untuk mewujudkan semua itu tidaklah mudah, banyak hal yang harus kita perhatikan mulai bagaimana proses pendidikan dirumah/dilingkungan keluarga yaitu orang tua, masyarakat yaitu anggota masyarakat dilingkungan tepat pergaulan sehari-hari, dan sekolah yaitu guru dan taman-teman sepermainanya.

Keteladanan guru di Sekolah.

Sekolah memiliki potensi paling besar dalam rangka mendidik anak-anak, berdasarkan tugas sekolah membina bakat intelaktual, mengembangkan kemampuan menilai dengan tepat, mengembangkan kepekaan terhadap nilai-nilai, mempersiapkan kehidupan profesi, memupuk bakat dan minat anak. Maka sebaiknya pendidikan budi pekerti terintegrasikan dalam prose pembelajaran tententu atau pada mata pejaran tersendiri, kedua-duanya ada untung ruginya.

Disekolah secara moral guru punya tanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai dan bentuk sikap yang baik kepada siswa, disini guru harus mempunyai kredibilitas yang tinggi dimata siswa, karena makin tinggi pengaruh seorang guru dapat dipercaya oleh siswa yang dibinanya, guru harus memahami profil guru yang dianggap baik oleh siswa, oleh karena itu guru harus dapat menjadi contoh, bersikap dan bertindak benar dalam hidup sesuai dengan asas : ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, dalam menanamkan sikap-sikap positif kemasyarakat sekolah membutuhkan cara kreatif, cara yang berbeda dengan pengjaran formal hal itu perlu disadari oleh setiap guru, bagaimana mempengaruhi dan menumbuhkan nilai-nilai sehingga terbentuk sikap-sikap yang baik pada diri siswa.

Dalam menanamkan budi pekerti, guru harus mampu menciptakan suasana baik untuk pertumbuhan sika-sikap positif sehingga mampu mempengaruhi masyarakat disekolah, nilai-nilai dan sikap yang tumbuh dan berkembang dilingkungan sekolah merupakan akibat dari keterserapan nilai-nilai hidup yang terpancar dari guru yang dapat menciptakan lingkungan yang bersifat kondusif, unsur lingkungan sosial yang berpengaruh dan sangat penting adalah unsur manusia yang langsung dikenal dan dihadapi seseorang sebagai perwujudan nilai-nilai tertentu. Jadi bila seorang guru mau menanamkan nilai-nilai dan sikap-sikap hidup positif pada masyarakat sekolah, ia harus hadir sebagai perwujudan nilai-nilai positif itu.

Seorang guru harus hadir di tengah-tengah masyarakat sekolah sebagai personifikasi nilai-nilai, ia perlu selalu mendidik diri sendiri , Proses mendidik diri sendiri harus berlangsung terus-menerus sebagai proses yang panjang. Tugas utama mengajar siswa dikelas, tetapi didalam kelas dan diluar kelas guru tetap sebagai pendidik.

Pengaruh guru terhadap siswa dalam nenanamkan nilai-nilai sehingga terbentuk sikap-sikap positif pada diri siswa cukup besar, hal itu bisa terjadi bila guru hadir di tengah-tengah siswa sebagai personifikasi nilai-nilai hidup yang ditanamkan, kepercayaan guru oleh siswa harus sungguh besar, bila kredibilitas anutan dengan baik dihati para siswa, kehadirannya akan diterima secara penuh, keteladanan dalam mewujudkan nilai-nilai hidup akan dilihat dan ditiru oleh para siswa., dengan keteladanan yang diterima para siswa, mereka akan termotivasi, akan tergerak dan terdorong mengikuti jejak guru dalam mewujudkan nilai-nilai yang benar dalam kehidupan.

Selain hal tersebut diatas sebaiknya siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan dirinya disekolah melalui berbagai kegiatan peserti Olah Raga, seni, Pramuka, Palang Merah Remaja, Kegiatan Kerokhanian, karena melaui kegiatan tersebut nilai-nilai budi pekerti dapat kita sisipkan secara tahap demi tahap, dalam suasana yang menyenangkan sehingga segala emosi akan tercurahkan pada kegiatan yang positip,

Peran orang tua.

Pendidikan budi pekerti juga menjadi tanggung jawab orang tua dirumah, karena waktu dirumah adalah yang paling banyak, sehingga jelas orang tua dalam pergaulaanya dengan anaknya waktunya lebih banyak, seorang anak mulai dari masih bayi sudah dididik, yang pertama oleh seorang ibu dengan kasih sayangnya mengasuh memberikan berbagai simbul-sibul kehidupan pada sianak, setelah mulai besar diajari tentang perilaku kehidupan, kemudian saat sudah mulai dewasa ditanamkan norma-norma kehidupan di masyarakat. Dalam menanamkan budi pekerti orang tua harus memberikan suri tauladan pada anak-anaknya, karena dengan melihat perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak secara tidak langsung akan melihat dan menirunya.

Tahapan Pendidikan Budi Pekerti.

1. Pada masa anak-anak yaitu dengan membiasakan betingkah laku serta berbuat menurut peraturan atau kebiasaan yang umum. Jadi pada masa anak-anak mulai di dalam keluarga dan di Taman Kanak-Kanak dilatih membiasakan perilaku-perilaku yang baik, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, dilakukan secara berulang-ulang sampai menjadi kebiasaan. Misalnya : Bangun pagi, makan bersama, mandi dua kali sehari, berpaikan rapi dan bersih, memcuci tangan setiap akan makan, berdo’a setiap akan melakukan kegiatan, berpamitan/meminta izin setiap kali akan berpergian, dll.
2. Pada usia beranjak dewasa yaitu mulai diberi pengertian tentang tingkah laku kebaikan dan menghindari keburukan dalam kehidupan sehari-hari, dan ditanamkanya sikap mau menginsafi dan menyadari jika melakukan kesalahan dan mau memaafkan bila ada pihak yang salah meminta maaf, ditanamkan sikap tentang sopan santun, kesusilaan, ungah-ungguh, untuk menanamkan hal tersebut dapat melalui kegiatan Kepemudaan, Pramuka, OSIS, kelompok Pencinta Alam, Kegiatan Palang Merah Ramaja, Olah Raga, Ikatan Ramaja Masjid, dll.
3. Pada usia dewasa yaitu mulai ditanamkan norma-norma kehidupan beragama, berbangsa, bemayaraskat, mengerti dan memahami norma etika, hukum, kesusilaan, kebudayaan, adat istiadat. Dalam penanaman budi pekerti disini harus meliputi teori dan praktek “Ngerti, Ngrasa, Nglakoni” artinya bahwa dalam melaksanankan pendidikan budi pekerti haruslah tertanam pengertian yang betul betul dipahami, dan merasa sebagai suatu kebutuhan, kemudian melaksanakannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Budi Pekerti Luhur sangat penting, olah karena itu harus ditanamkan sejak mulai dari dalam kehidupan dilingkungan Rumah terutama orang tua yang paling banyak berperan menuntun terhadap tata nilai kehidupan yang baik pada anak-anaknya, Sekolah yaitu guru sebagai pendidik hendaknya dapat memberikan bimbingan kearah yang baik pada anak didiknya, di masyarakat hendaknya terciptanya pergaulan yang baik yaitu berkembangnya rasa tenggang rasa, saling menghormati/menghargai, dan patuh pada norma-norma yang berlaku. Sehingga akan tercipa masyarakat yang berbudi pekerti luhur.

Sumber :Lebih Jelasnya Disini
Read More...

Selasa, 22 Juni 2010

Dalam hidup ini, paling tidak ada empat kekuatan yang harus dibangun untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang produktif, yaitu kecerdasan

Dalam hidup ini, paling tidak ada empat kekuatan yang harus dibangun untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang produktif, yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, “kecerdasan” fisik, dan kekuatan intelektual.

Berkait dengan kekuatan intelektual seseorang, menurut B.S. Wibowo, dkk. (2002: 75), dapat dilihat dari segi kemampuan berpikir yang logis, analisis, kreatif, dan inovatif. Lebih jauh, diungkapkan bahwa kegiatan intelektual adalah aktivitas otak manusia yang secara sadar melakukan proses berpikir ilmiah dengan mengacu pada struktur pengkajian ilmiah. Yaitu meliputi pengkajian masalah, menyususn kerangka teoritis dan pengajuan hipotesis, membuat metodologi penelitian, memperoleh hasil penelitian dan membuat kesimpulan.

Jadi, proses berpikir ini memiliki peran yang penting dalam membangun kehidupan tiap manusia. Bukankah ilmu itu lahir karena manusia diberkahi Sang Pencipta suatu sifat ingin tahu? Keberadaan rasa ingin tahu inilah yang sebenarnya menjadikan kegiatan berpikir itu muncul pada diri seseorang.

Pemikiran atau berpikir, menurut Thaha Jabir Alwani (1989), merupakan kata benda dari aktivitas akal yang ada dalam diri manusia, baik kekuatan akal berupa kalbu, ruh atau dzihn, dengan pengamatan dan pendalaman untuk menemukan makna yang tersembunyi dari persoalan yang dapat diketahui, maupun untuk sampai pada hukum atau hubungan antar sesuatu.

Dari pengertian tersebut, maka menurut penulis, wajar saja kalau ada orang yang mengatakan kalau berpikir itu adalah termasuk kedalam kategori bekerja cerdas. Jadi, kenapa Anda sekarang masih tidak mau berpikir tentang sesuatu hal yang bermanfaat bagi kekuatan intelektual Anda?

Manajemen IQRA

Kecerdasan seseorang itu tidak tercipta begitu saja. Tapi, ia merupakan “proses belajar” yang simultan dari ketekunan dan kemauan seseorang. Karena semua ketrampilan (termasuk kekuatan intelektual) untuk memecahkan suatu masalah, pada dasarnya tidak akan membantu jika Anda tidak memiliki kemauan.

Imam Ali ra pernah berkata: “Ilmu adalah harta dalam kotak perbendaharaan, kunci pembukanya adalah pertanyaan.” Sementara itu, Ibnu Abbas pernah ditanya salah seorang sahabatnya, “Bagaimana Anda dapat sedemikian pintar?” Jawab Ibnu Abbas: “Dengan akal yang gemar berpikir dan lidah yang gemar bertanya.”

Untuk itu, biasakan diri kita bertanya tentang sesuatu, sebab bertanya adalah tanda mengerti. Apalagi bagi para pelajar, kebiasaan bertanya ini memiliki peran yang penting dalam membangun sukses belajar. Dan bukankah, untuk bisa mengerti itu kita harus selalu belajar? Memang belajar mengajukan sebuah pertanyaan itu dapat mendatangkan perasaan malu sesaat, tetapi tidak bertanya dan tetap dungu akan malu seumur hidup. Jadi, “bertanyalah” selalu dalam belajar.

Di sini, agar kegiatan belajar kita dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal dan sukses, tentu harus ada strategi yang mesti dipersiapkan. Salah satu strategi yang dapat menjadi model belajar kita agar sukses adalah melalui manajemen IQRA (inquiry, question, repeat, dan action).

Manajemen adalah suatu tindakan mengendalikan, kecakapan dalam menjuruskan administrasi. Yakni administrasi terhadap model belajar yang akan kita lakukan sehari-hari. Model belajar IQRA ini, seperti diungkap B.S. Wibowo, memiliki kegiatannya sendiri-sendiri.

Pertama, inquiry. Model belajar inquiry adalah belajar mandiri dengan menggali dari apa yang kita lihat, dengar, baca, perhatikan, alami, rasakan. Selalu mengadakan penyelidikan atau menerapkan total tarbiyah dzatiyah. Dengan demikian, hendaknya setiap mutarabbi selalu mandiri dalam mencari kebenaran, secara aktif mencari informasi untuk menjawab rasa ingin tahu yang timbul dalam dirinya.

Kedua, question. Model belajar yang tumbuh dari dalam diri, memenuhi rasa ingin tahu. Melakukan konfirmasi, membuat hipotesa, terus bertanya dalam memenuhi dan menciptakan kebutuhan. Ingat, ada sebuah hadis yang mengatakan ilmu itu perbendaharaan, sedangkan kuncinya adalah pertanyaan.

Ketiga, repeat. Model yang paling baik dalam belajar yaitu dengan melakukan review terhadap apa yang telah diterima. Hal ini agar data dari memori jangka pendek dapat bertahan ke jangka panjang, menguatkan memori, membuat mapping. Nabi Adam, setelah diajarkan Allah nama-nama benda, kemudian disuruh me-recall seluruh informasi yang telah diterima dengan menyampaikan kepada malaikat dan jin. Sebaiknya, setelah menerima materi, setiap mutarabbi tidak langsung membuang atau menyimpan catatannya, usahakan mengulangi barang sebentar dan menajamkan kembali dengan kata-katanya sendiri.

Keempat, action. Puncak belajar adalah amal, diperlukan aplikasi terhadap apa yang telah kita pahami. Amal adalah buah ilmu. Dengan penerapan amal maka kita akan kembali menemukan ilmu baru. Ingat, puncak ilmu adalah amal. Dengan amal maka kita akan melakukan sintesa antara teori dengan aplikasi, inilah puncak ilmu.

Akhirnya, untuk menghasilkan kekuatan intelektual dikalangan para pelajar, melalui penerapan konsep manajemen IQRA agar “sempurna”, maka setiap kita hendaknya melakukannya dengan menerapkan perilaku FIKIR dan DZIKIR. Yakni belajar dengan fun (belajar dengan senang), ijthiad (belajar dengan berpikir), konsep (belajar dengan mengumpulkan konsep, rumusan, model, pola, dan teknik), imajinasi (belajar membangun imajinasi untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar baru), rapi (dengan ketrampilan manajemen dan organisasi dalam belajar). Dan jangan lupa lakukan juga dzikir (doa, ziarah, iman, komitmen, ikrar, dan realitas). Wallahu’alam.***
Read More...

Senin, 21 Juni 2010

Membantu Anak meraih Sukses

Memilih sekolah yang baik dan sesuai dengan karakter anak adalah sangat penting. Sekolah merupakan tempat ke dua bagi anak untuk mencari ilmu dan mengembangkan kemampuan atau bakatnya. Sekolah yang baik dan sesuai dengan karakter anak akan mampu menuntun anak ke arah yang lebih baik di masa depan kelak. Di sekolah anak akan lebih banyak lagi belajar sesuatu tentang ilmu pengetahuan formal dan bagaimana bersosialisasi yang baik. Anak-anak akan belajar bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan banyak teman, bagaimana manfaatnya bekerja sama, dan berbagi dengan orang lain (teman). Selain itu anak juga akan belajar banyak hal tentang ilmu pengetahuan lain seperti matematika yang sangat penting dalam hal memutuskan sesuatu di masa depan nanti.

Kini orangtua memiliki banyak pilihan sekolah untuk anak. Ada sekolah yang menawarkan kurikulum nasional, campuran, dan bahkan internasional. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memilih sekolah Bayi Sehat.com

1. Membuat daftar nama-nama sekolah untuk mempermudah observasi.
2. Pilihlah lokasi sekolah yang lebih baik tetapi dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah. Hal ini supaya si kecil tidak bosan di jalan dan mengalami kebosanan. Selain itusebagai upaya untuk menghemat biaya dan mempermudah orangtua apabila sesekali ada acara, pertemuan orangtua siswa, atau mungkin ada sesuatu yang harus segera ditindaklanjuti oleh pihak sekolah dan orangtua siswa, misalnya orangtua harus segera menjemput anak karena sakit.
3. Pastikan tenaga pengajar (guru) di sekolah tersebut berkualitas baik, memiliki minat yang besar terhadap kebutuhan anak.
4. Sekolah memiliki program yang baik, sekolah mampu memberikan banyak waktu untuk mendorong minat setiap anak.
5. Perputaran tenaga pengajar. Ketidaknyamanan guru boleh jadi mempengaruhi kegiatan belajar-mengajar.
6. Pastikan sekolah memiliki fasilitas lengkap yang dibutuhkan anak.
7. Perbandingan guru dan anak-anak di dalam kelas. Semakin kecil rasionya, anak-anak akan mendapatkan perhatian yang cukup dari guru.
8. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan kondisi keuangan.
9. Carilah referensi tentang sekolah dari orangtua lain.
10. Hal yang penting adalah membicarakan sekolah yang dimaksud dengan anak. Pilihlah sekolah yang sesuai dengan karakter anak.

Membantu anak menentukan sekolah yang baik adalah penting. Semakin anak merasa nyaman di sekolah maka anak akan semakin mudah mengembangkan kemampuan dirinya. Ada satu hal lain yang penting orangtua lakukan ketika anak sudah mulai bersekolah adalah menjalin hubungan yang baik dengan guru atau wali kelas anak. Komunikasikanlah tentang hal-hal yang menyangkut diri anak dengan sekolah. Dengan perhatian dan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orangtua, anak akan semakin nyaman dalam menuntut ilmu. Dengan demikian, kesuksesan akan mudah diraih oleh anak.


Sumber : Lebih Jelasnya Disini
Read More...

Sabtu, 12 Juni 2010

Membudayakan Belajar Berbasis TIK

Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi.Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.

Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media.

Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera mungkin untuk diwujudkan.

Sumber :Disini
Read More...

Pendidikan TIK Berbasis Linux/FOSS

FOSS singkatan dari Free (Freedom) / Open Source Software, artinya perangkat lunak atau program komputer yang tersedia bebas atau merdeka untuk digunakan dan digandakan. FOSS juga dapat dipelajari dan dikembangkan karena tersedia kode sumbernya (opened source) dan disebarluaskan untuk apa saja.

Contoh FOSS adalah Linux, yaitu sistem operasi komputer yang dilengkapi berbagai program untuk memenuhi hampir semua kebutuhan pengguna komputer, termasuk untuk pendidikan mulai dari TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, kursus-kursus, hingga perguruan tinggi. Contoh Linux buatan anak bangsa: BlankOn dan IGOS Nusantara.

Keuntungan Menggunakan Linux/FOSS

1. Meningkatkan kemampuan lokal (peingkatan mutu SDM di bidang TIK).
2. Menghemat biaya pengeluaran untuk lisensi (menghemat devisa).
3. Meningkatkan keamanan nasional dan organisasi pengguna (pendidikan, pemerintah, bisnis, dan personal), karena tersedia kode program untuk dipelajari.
4. Mengurangi pelanggaran HaKI di bidang hak cipta software.
5. Memudahkan pelokalan (localization), seperti bahasa, program, dan tampilan.
6. Meningkatkan kemampuan berkompetisi SDM secara global.
7. Mengurangi total biaya kepemilikan program (TCO: Total Cost of Ownership).
8. Mengurangi ketergantungan terhadap vendor atau negara asing di bidang TIK.
9. Meningkatkan akses terhadap informasi (FOSS sangat berperan di internet, dsb.).

Kurikulum Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada 2006 lalu mengeluarkan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) sebagai penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dikeluarkan pada 2004. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran baru di awal 2000-an. Standar kompetensi yang disebut dalam kurikulum itu sangat mendukung masuknya materi ilmu komputer berbasis Linux dan program Open Source lainnya.

Kurikulum TIK 2006 itu tidak lagi menyebut nama produk perangkat lunak, seperti dalam kurikulum pendidikan komputer di Indonesia beberapa tahun sebelumnya. Misalnya, pelajaran pengolah kata tidak menyebutkan Microsoft Word, sehingga penyelenggara sekolah dapat menggunakan OpenOffice Writer, AbiWord, Kword, dan lain-lain.

Yang lebih menarik, dalam salah satu materi pokok pelajaran TIK untuk sekolah itu terdapat materi etika dalam menggunakan teknologi informasi dan UU Hak Cipta. Akan sangat memalukan, bila pada saat pelajaran tentang etika dan hak cipta ini siswa menggunakan perangkat lunak bajakan. Di sisi lain, akan sangat berat bagi sekolah dan orang tua siswa, jika harus membayar lisensi semua perangkat lunak yang digunakan di sekolah.

Sesuai dengan panduan standar kompetensi Kurikulum 2004 (KBK) dan 2006 (KTSP), mata palajaran TIK merupakan salah satu fasilitas untuk menghasilkan siswa yang berkompeten. Maksudnya, siswa tidak hanya mampu merespon tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, desentralisasi, dan hak asasi manusia, tapi juga mampu menggali, menyeleksi, mengolah dan menginformasikan bahan kajian yang telah diperoleh meskipun telah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, siswa memiliki bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Dan untuk itu semua, perangkat lunak yang berbasis Linux/FOSS sangat tepat dijadikan sebagai bahan ajar.
Program Linux dan Free/Open Source Software

Sesuai dengan tujuan mata pelajaran TIK dalam Kurikulum 2004 dan 2006, berikut ini contoh beberapa program Linux untuk pendidikan dasar dan menengah.

* Teknologi Informasi dan Komunikasi umum
Materi ini meliputi pengenalan komputer dan sistem operasi, yang dapat menggunakan distro Linux populer buatan anak bangsa seperti BlankOn, IGOS Nusantara, dan Kuliax, atau distro Linux umum seperti Fedora, Ubuntu, Debian, Mandriva, openSUSE, dan Slackware.
* Aplikasi multimedia/spesifik (presentation)
Contoh aplikasi yang dapat digunakan untuk materi ini adalah Audacity untuk mengolah suara, Kino dan Kdenlive untuk mengolah video, dan OpenOffice Impress untuk presentasi.
* Pengolahan gambar (drawing)
Mengolah gambar di Linux dapat menggunakan OpenOffice Draw, Kontour, Inkscape, Krista, dan GIMP.
* Pengolah kata (Word Processor)
Linux memiliki beberapa aplikasi untuk ini, antara lain OpenOffice Writer, AbiWord, dan Kword.
* Pengolah angka (Spreadsheet)
Tersedia beberapa spreadsheet di Linux, antara lain OpenOffice Calc, Gnumeric, dan Kspread.
* Pemanfaatan database
Selain OpenOffice Base yang disertakan pada paket OpenOffice.org, MySQL dan PostgreSQL merupakan pilihan tepat untuk belajar database.
* Pemrograman
Pemrograman di Linux dapat dipenuhi oleh Python atau Gambas yang sangat mirip Visual Basic, atau PHP dan Java untuk pemrograman berbasis web, dan sebagainya.
* Pemanfaatan LAN dan Internet (email, web, dll.)
Ini materi-materi yang sangat cocok menggunakan Linux, karena semua distro Linux menyediakan aplikasi untuk jaringan, server (misal web server Apache dan mail server Postfix) dan client (web browser Firefox dan email client Evolution atau Thunderbird).

Daftar Pengganti Program Windows
Berikut ini sebagian daftar program yang jalan di Windows dan penggantinya di Linux:

1. 1.MS Office => OpenOffice, KOffice, AbiWord, Gnumeric
2. Internet Explorer => Firefox, Konqueror
3. Outlook => Evolution, Thunderbird, KMail
4. Yahoo Messenger => Pidgin, Yahoo Messenger.
5. File/Print Sharing => Samba, NFS, CUPS
6. Photoshop => GIMP, ImageMagic
7. CorelDraw => Inkscape, Xara
8. Publisher/PageMaker/InDesign => Scribus
9. SQL Server => MySQL, PostgreSQL
10. VisualBasic/.Net => Gambas/Mono
11. ASP => PHP, Java
12. IIS Web Server => Apache Web Server
13. Exchange Server => Postfix, Sendmail, Qmail
14. WinZip => File Roller, Ark
15. DreamWeaver => NVU
16. WinAmp => XMMS, Rhythmbox
17. CoolEdit => Audacity
18. Windows Media Player => MPlayer, Totem, Xine
19. AutoCAD => QCAD, VariCAD
20. 3D Max => Blender
21. Nero => K3b, Brasero
22. MyMoney => GnuCash
23. SPSS => R-base, PSPP
24. dll.

Sumber :http://kluwek.linux.or.id/2010/03/29/pendidikan-tik-berbasis-linuxfoss
Read More...

ICT For Teacher

”PENDIDIKAN GURU BERBASIS INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGY”

Abstrak

Pendidikan terus berupaya menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan global, tak terkecuali pola pendidikan bagi guru. Penggunaan ICT dalam pendiidkan dapat dijadikan sebagai alternatif untuk penyelenggaraan pendidikan bagi para calon guru dan para guru profesional. Terdapat beberapa model pembelajaran guru di beberapa negara dengan sistem pendidikan terbuka dengan pembelajaran jarak jauh misalnya : penggunaan Tvplus jurnalistik di Brazil, Pemanfaatan Radio interaktif di Afrika Selatan, Pengembangan kepala sekolah di Burkino Faso Afrika dan penggunaan ICT di CILI. Model yang banyak digunakan oleh beberapa negara adalah dengan pemanfaatan ICT terutama dengan sistem elearning. Hal tersebut diperkuat dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.107/U/2001 (2 Juli 2001) tentang ‘Penyelenggaraan Program Pendidikan Tinggi Jarak Jauh’, maka perguruan tinggi tertentu yang mempunyai kapasitas menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh menggunakan e-learning, juga telah diijinkan menyelenggarakan-nya. Lembaga lembaga pendidikan non-formal seperti kursus-kursus, juga telah memafaatkan keunggulan e-learning ini untuk program-programnya termasuk program pendidikan guru sedianya dilakukan analisis secara mendalam kemungkinan untuk diterapkan dalam pendidikan jarak jauh dengan menerapkan ICT.


Sumber :http://cepiriyana.blogspot.com
Read More...

Kamis, 10 Juni 2010

7 Jenis Tulisan Blog yang Selalu Dicari Orang

Anda ingin blog selalu dikunjungi ribuan atau bahkan ribuan orang tiap harinya? Anda ingin blog anda selalu ramai dan sesak oleh jubelan pengunjung? Atau anda ingin blog anda menjadi blog paling populer yang dibicarakan banyak orang?

Kuncinya: sediakan informasi yang mereka cari!

Sebab itu juga, saya katakan bisnis produk informasi tidak akan pernah ada matinya. Informasi selalu diburu oleh siapapun yang membutuhkannya. Sejak dulu dan sampai kapanpun orang butuh mengkonsumsi informasi. Bahkan, ketika mulai sekolah dari SD pun pada hakikatnya yang kita pelajari adalah kumpulan informasi yang kemudian kita sebut ilmu. :)

Nah, kembali ke jenis tulisan dalam blog. Blog sendiri sebagai sarana soft selling dan pengungkit (leverage) bisnis anda membutuhkan konten sebagai isinya. Sebagian besar konten di internet berbentuk teks/tulisan.

Pertanyaannya, apa sajakah jenis tulisan yang membuat orang-orang selalu berlari menuju blog anda setiap mengakses internet?

Ini jawabannya.

1. Tulisan How-To. Tulisan yang menerangkan bagaimana anda melakukan sesuatu (how-to) merupakan salah satu jenis tulisan paling dicari di internet. Banyak orang suka karena tulisan jenis ini langsung menawarkan solusi dari masalah yang sedang dihadapinya.
Contohnya seperti posting 5 Tips Membuat Account Yahoo Mail Lebih Aman. Contoh-contoh lainnya bisa anda lihat di arsip blog ini. Saya cukup sering menuliskan tulisan jenis ini.
2. Tulisan Berita Terbaru. Berita hangat yang baru saja/sedang terjadi termasuk yang paling dicari internet. Orang mencarinya karena ingin tahu bagaimana perkembangan terbaru dari berita yang diminatinya.
Contoh seperti tulisan Google yang Dikeroyok. Memang kebanyakan jenis tulisan ini didominasi oleh portal-portal berita. Namun bagi anda yang punya blog dengan niche-niche tertentu tidak perlu khawatir. Selalu ikuti perkembangan terbaru dalam niche anda dan anda bisa tuliskan berita terbaru dalam sudut pandang anda sendiri.
3. Tulisan Motivasi. Agar terus bersemangat, orang kadang butuh suntikan dari luar. Nah, di sini tulisan-tulisan berjenis motivasi memenuhi kebutuhan tersebut. Tak heran juga kalau sekarang blog-blog motivasi terus bermunculan karena dibutuhkan banyak orang.
4. Tulisan Berbentuk Daftar (list). Tulisan berbentuk list (daftar) mudah dicerna. Sehingga banyak yang menyukainya. Seperti contohnya tulisan ini atau contoh lain tentang 30 pengusaha online muda sukses di blog Mas Maghfur Amin.
5. Tulisan tentang Kontes. Anda sudah pernah mengadakan kontes? Jika belum anda bisa adakan dan umumkan lewat tulisan di blog anda. tidak harus berhadiah besar seperti kontes SEO Stop Dreaming Start Action tahun lalu, tapi bisa disesuaikan dengan kondisi anda.
Diadakannya kontes menarik dan menambah interaktif blog anda. Sebab peserta kontes akan saling terpacu untuk menunjukkan yang terbaik.
6. Tulisan tentang Review Produk. Informasi tentang produk dibutuhkan banyak orang. Oleh karenanya anda bisa tuliskan . Tidak harus produk informasi, namun bisa juga produk fisik yang baru anda beli. Tulisan anda ini akan membantu orang-orang yang membutuhkan informasi tersebut.
Bagaimana cara menulis review? Anda bisa baca 10 Tips Menulis Review Produk.
7. Tulisan Penjelasan suatu Istilah. Banyak orang yang belum mengerti arti sebuah istilah. Nah, tulisan jenis ini akan menjelaskan suatu istilah agar orang yang sebelumnya tidak paham menjadi mengerti yang dimaksudkannya.
Tulisan seperti apa itu affiliate program?, apa itu SEO?; apa itu search engine? dan sejenisnya merupakan tulisan jenis ini.

Nah, itulah jenis-jenis tulisan yang selalu dicari orang-orang. Anda bisa praktekkan di blog anda. Atau mungkin anda mau menambahkan jenis tulisan lainnya yang belum tercakup pada daftar di atas?
Read More...

Rabu, 09 Juni 2010

Penggunaan Media Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progressif, juga merupakan suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
Belajar adalah suatu kegiatan yang berproses serta merupakan suatu unsur yang fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Maka dengan hal ini para ahli membuat beberapa definisi tentang belajar yang berbeda karena dlilihat dari sudut pandangnya. Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan, mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Belajar atau biasa disebut learning bersifat mengubah individu, perubahan itu hasil dari pengamatan. Belajar adalah perubahan pola pikiran dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Proses belajar merupakan hasil dari proses stimulus respons dan itu merupakan proses aktif dari individu untuk menyerap. Memproses dan menguji informasi dalam menemukan prinsip-prinsip secara mandiri. Di dalam proses pembelajaran di sekolah, sudah bukan rahasia umum lagi jika seorang guru sering menghadapi persoalan dengan sejumlah siswa, di mana setiap siswa tersebut mempunyai ciri khas masing-masing yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam segi kemampuan intelektual, emosional, latar belakang keluarga maupun kebiasaan.
Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat penting, karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang memerlukan perhatian khusus, keuletan, keteguhan, ketekunan, kerajinan dan kedisiplinan. Oleh karena itu agar proses pembelajaran yang diselenggarakan berdayaguna dan berhasil guna, maka proses pembelajaran tersebut benar-benar harus dilaksanakan dengan baik. Belajar adalah perubahan pola pikiran dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Seorang guru harus dapat memilih dan menetapkan media yang paling tepat dan sesuai untuk penyampaian bahan tertentu, kondisi belajar peserta didik dan metode yang telah dipilih.
Salah satu kriteria yang sebaiknya yang digunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya. Apabila media yang sesuai belum ada, maka guru berupaya untuk mengembangkannya sendiri.
Proses belajar merupakan hasil dari proses stimulus respons dan itu merupakan proses aktif dari individu untuk menyerap. Memproses dan menguji informasi dalam menemukan prinsip-prinsip secara mandiri. Menggunakan media pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan menciptakan kondisi belajar yang merangsang peserta didik agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Adapun tujuan dari penggunaan media pembelajaran itu sendiri adalah untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan oleh guru sebagai alat bantu dalam melaksanakan proses belajar mengajar, sehingga peserta didik dapat dengan mudah menangkap, memahami, dan memiliki pesan-pesan dan makna yang disampaikan dalam pembelajaran tersebut. Adapun tujuan dari penggunaan media pembelajaran itu sendiri adalah untuk membantu guru menyampaikan pesan-pesan secara lebih mudah kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat.
Dengan menggunakan media pembelajaran diharapkan terjadi perubahan pada peserta didik, perubahan peserta didik merupakan dampak dari keberhasilan guru dalam memberikan pelajaran, dan proses belajar mengajar dapat dicerna dan difahami dengan baik apabila ditunjang oleh berbagai hal, salah satunya adalah media pembelajaran.
Ada beberapa media sebagai alat bantu pelajaran yang dapat digunakan dan dapat dikembangkan oleh guru, antara lain :
a. Media Grafis, media ini termasuk media visual, pesan yang disampaikan berupa simbol-simbol. Yang termasuk media Grafis di antaranta :
- Gambar/foto
- Sketsa
- Diagram
- Bagan
- Grafik
- Kartun
- Poster
- Globe, dll.
b. Media Audio, media ini berkaitan dengan indera pendengaran, pesan yang disampaikan dalam media ini berupa lambang-lambang auditif. Adapun jenis-jenis media audio antara lain :
- Radio
- Alat Perekam Magnetik
- Laboratorium Bahasa
c. Media Proyeksi Diam, media proyeksi diam sama dengan media grafis yakni menyajikan rangsangan-rangsangan visual, hanya dalam media proyeksi diam pesan tersebut harus diproyeksikan dengan peralatan proyektor. Kenis-jenis media yang termsuk dalam media proyeksi diam adalah :
- Film bingkai
- Film rangkai
- OHT (Overhead Transparancy)
d. Media Proyeksi Gerak & Audio Visual, media ini selain dapat menyampaikan pesan melalui indera penglihatan, dapat pula dibarengi dengan visual yang dapat didengar oleh peserta didik. Jenis-jenia peralatan yang termasuk proyeksi gerak dan audio visual antara lain :
- Film gerak
- Program Televisi
- Video
e. Multimedia, merupakan alat bantu yang memanfaatkan program komputer dengan file multimedia. Dalam hal ini multimedia dapat menampilkan tulisan, gambar sekaligus juga suara.
f. Benda, merupakan alat bantu pelajaran yang nyata, baik benda asli maupun benda tiruan.
Dari semua alat bantu yang telah diuraikan di atas, guru harus mampu dan pandai-pandai memilih alat bantu mana yang bisa dan sesuai digunakan dalam membantu proses belajar mengajar.
Tidak semua alat bantu pelajaran dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan proses belajar mengajar, hal ini tentu saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, selain itu efektifitas dan efisiensi alat itu sendiri harus dipertimbangkan oleh guru, sehingga proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.


DAFTAR BACAAN

Azhar Arsyad, Prof. Dr., M.A. (1996) “Media Pembelajaran” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Cicih Sunarsih, Dra., MM. (2006), “Dasar-dasar PBM di Sekolah Dasar” Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Bandung.
Rudi Budiman, Drs.(2008). “Media Pembelajaran” P4TK & PLB, Bandung.
Read More...

Upaya Guru dalam Motivasi Belajar

1. Pengertian Belajar

Ada beberapa pendapat dari para ahli yang memberikan pengertian tentang motivasi. Untuk memberikan gambaran mengenai pengertian motivasi, penulis memandang perlu mengkaji beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :

1. Pendapat yang dikemukakan oleh Mc. Sardiman (1986 : 73) menyebutkan bahwa “Motivasi adalah perubahan energi pada diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”.
2. Menurut Ngalim Purwanto (1990 : 61) “Motivasi atau dorongan adalah suatu penyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau perangsang”.
3. Pendapat Rochman Matawijaya (1985 : 46) menyebutkan bahwa “Motivasi adalah suatu proses untk menggiatkan motivatif menjadi perbuatan atau tingkah laku, yang mengatur perbuatan atau tingkah laku untuk memuaskan kebutuhan atau mencapai tujuan.

Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang muncul dari dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang disebabkan adanya rangsangan terhadap tujuan yang akan dicapai. Jadi, untuk dapat menimbulkan dorongan yang kuat dalam diri seseorang perlu adanya perangsang. Motivasi dapat disebut juga serangkaian usaha untuk menjadikan kondisi-kondisi tertentu untuk dapat merangsang seseorang melakukan sesuatu. Motivasi akan muncul dengan rangsangan dari luar, dapat pula tumbuh dari dalam diri seseorang.

Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kegiatan belajar untuk berlangsung terus dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar akan dapat tercapai.

Kemudian dalam hubungan dengan proses belajar mengajar, yang penting adalah bagaimana penciptaan kondisi atau suatu proses yang mengarahkan siswa untuk melakukan aktivitas belajar, bagaimana guru melakukan usaha-usaha untuk menumbuhkan motivasi agar anak didiknya melakukan aktivitas dengan baik. Sardiman (1986 : 77) mengemukakan bahwa : “memberikan motivasi pada seorang siswa berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu”.

2. Ciri-ciri Motivasi Belajar

Sardiman (1986 : 83) memaparkan ciri-ciri motivasi belajar yang ada pada diri setiap orang, sebagai berikut :

1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang tekah dicapainya).
3. Menunjukan minat terhadap macam-macam masalah untuk orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi, penentangan terhadap tindak kriminal amoral, dan sebagainya).
4. Lebih senang bekerja mandiri.
5. Cepat bosan dengan tugas rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
6. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau yakin akan sesuatu).
7. Senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Demikian ciri-ciri motivasi belajar, apabila seseorang memiliki ciri-ciri tersebut, berarti telah memiliki motivasi belajar yang kuat. Dalam kegiatan (proses) belajar mengajar belajar akan berhasil baik kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambata secara mandiri. Berbagai hal tersebut harus dipahami benar oleh guru, agar dalam berinteraksi dapat memberikan motivasi yang tepat dan optimal.

3. Fungsi Motivasi Belajar

Perlu ditegaskan bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan, dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut, Sardiman (1986 : 85) memaparkan tiga fungsi motivasi, yaitu :

1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai pengerah atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi memberikan arah pada kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa akan menghadapi ujian dengan harapan akan lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Selain itu ada fungsi-fungsi lain, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan usaha karena ada motivasi. Adanya motivasi belajar yang baik akan menunjukan hasil yang baik.

4. Jenis-jenis Motivasi

Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Hal ini dikarenakan motif-motif atau motivasi yang aktif itu sangat bervariasi, Sardiman (1986 : 88) membedakan motivasi belajar dengan motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah.

Demikian pula ada beberapa ahli yang menggolongkan motivasi itu menjadi dua jenis, yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan motivasi rohaniah yaitu kemauan.

5. Bentuk-bentuk Motivasi belajar di Sekolah

Di dalam kegiatan belajar mengajar peran motivasi baik instrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Motivasi bagi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan mengarahkan serta memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.

Membangkitkan motivasi belajar tidaklah mudah, untuk itu guru perlu mengenal siswa dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat siswa. Dalam hal ini Sardiman (1986 : 91-94) mengemukakan bahwa ada beberapa bentuk dan cara yang dapat dilakukan guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa di sekolah, antara lain :

1. Memberi Angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan siswa. Angka-angka yang baik bagi siswa merupakan motivasi yang sangat kuat, tetapi juga banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin naik kelas saja.

Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati. Oleh karena itu guru harus mencari solusi bagaimana cara memberikan angka yang terkait dengan nilai yang terkandung dalam setiap pengetahuan, sehingga tidak hanya nilai kognitif saja, melainkan juga keterampilan dan apektifnya.

2. Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk pekerjaan tersebut.

3. Saingan/Kompetisi

Saingan/Kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi belajar siswa. Persaingan antar individu maupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

4. Memberi Ulangan/Tes

Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Yang harus diingat oleh guru jangan terlalu sering memberi ulangan, hendaknya bila akan ulangan harus diberitahukan terlebih dahulu.

5. Mengetahui Hasil

Semakin mengetahui grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan harapan hasilnya akan terus meningkat.

6. Pujian

Apabila ada siswa yang sukses atau berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian merupakan bentuk motivasi yang positif.

7. Hukuman

Hukuman sebagai bentuk motivasi yang negatif, tetapi kalau diberikan secara bijak dapat menjadi alat motivasi yang baik.

8. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan pada diri anak didik sehingga hasilnya akan lebih baik pula.

9. Minat

Minat muncul karena ada kebutuhan. Proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai minat yang kuat.

10. Tujuan yang Diikuti

Rumusan yang diikuti dan diterima baik oleh siswa merupakan alat motivasi yang sangat penting. Dengan memahami tujuan yang harus dicapai, maka akan timbul gairah untuk belajar.

Sementara itu Nasution (1986 : 85) mengemukakan beberapa petunjuk singkat dalam rangka upaya guru membangkitkan motivasi belajar siswa di sekolah, antara lain :

1. Usahakan agar tujuan pelajaran jelas dan menarik, motif mempunyai tujuan, makin jelas tujuan, makin kuat motivasi.
2. Guru sendiri harus antusias mengenai pelajaran yang diberikan.
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan, senyuman yang menggembirakan suasana.
4. Usahakan agar anak-anak turut serta dalam pelajaran. Anak-anak ingin aktif.
5. Hubungkan pelajaran dengan kebutuhan anak.
6. Pujian dan hadiah lebih berhasil dari hukuman dan celaan. Sebaiknya biarlah hasil baik dalam pekerjaan merupakan hadiah bagi anak.
7. Pekerjaan dan tugas harus sesuai dengan kematangan dan kesanggupan anak.
8. Mengetahui hasil baik menggiatkan usaha murid.
9. Hasil buruk apalagi kalau terjadi berulang-ulang akan mematahkan semangat.
10. Hargailah pekerjaan murid.
11. Berilah kritik dengan senyuman. Janganlah anak mendapatkan kesan bahwa guru marah kepadanya, tetapi hanya kecewa atas hasil pekerjaannya atau perbuatannya.


2. Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Anak

Secara umum guru berarti orang yang dapat menjadi anutan serta menjadikan jalan yang baik demi kemajuan. Sejak berlakunya kurikulum 1995, pengertian guru mengalami penyempurnaan, menurut kurikulum 1995 ialah “Guru adalah perencana dan pelaksana dari sistem pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Guru sebelum proklamasi secara umum diartikan sebagai “seseorang yang telah mengkhususkan dirinya untuk melakukan kegiatan penyampaian ajaran kepada orang lain”. Sesudah kemerdekaan guru diartikan sebagai “warga negara Indonesia yang diangkat pemerintah RI sebagai pegawai negeri yang diberi tugas untuk mengajar”.

Demikian beberapa batasan guru yang pada intinya bahwa guru adalah seorang panutan bagi siswa yang bertugas mengajar dan mendidik siswanya agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Guru merupakan salah satu faktor pendidikan yang sangat penting, karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak.

Belajar adalah suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.

Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55).

Adapun syarat-syarat bagi guru pada umumnya, termasuk di dalamnya guru agama, telah tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4 Tahun 1950 Bab X Pasal 15 yang berbunyi :

“Syarat utama menjadi guru selain ijazah dan syarat-syarat lain mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pengajaran”. (Zuhairini, 1983 :35).

Dari batasan tersebut dapat dijabarkan bahwa untuk menjadi guru kelas harus mempunyai syarat-syarat :

* Mempunyai ijazah formal

* Sehat jasmani dan rohani, dan

* Berakhlak yang baik.

Bagi guru agama, disamping harus memiliki syarat-syarat tersebut masih ditambah dengan syarat-syarat lain yang oleh Direktorat Pendidikan Agama telah ditetapkan sebagai berikut :

1. Memiliki pribadi mukmin, muslim, dan muhsin.
2. Taat untuk menjalankan agama (menjalankan syariat Islam, dapat memberi contoh tauladan yang baik pada anak didiknya).
3. Memiliki jiwa pendidik dan rasa kasih sayang pada anak didiknya dan ikhlas jiwanya.
4. Mengetahui dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang keguruan, terutama didaktik dan metodik
5. Mnegtahui pendidikan agama.
6. Tidak mempunyai cacat rohaniah dan jasmaniah dalam dirinya. (Zuhairini, 1983 : 36).

Sementara itu Zakiah Darajat (1992 : 40) mengemukakan sebagai berikut : “Dilihat dari ilmu pendidikan Islam, maka secara umum untuk menjadi guru yang baik dan diperkirakan dapat memiliki tanggung jawab yang dibebankan kepadanya hendaknya bertaqwa kepada Alloh, berilmu, sehat jasmaniah, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional”.

Di Indonesia pembelajaran pendidikan prasekolah lebih bersifat akademik, di mana anak lebih banyak duduk di bangku dan harus tertib seperti di sekolah. Jarang guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berksplorasi, mengekspresikan perasaannya, dan melakukan sendiri apa yang mereka minati, sampai menemukan pemecahan masalah sendiri.

Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran dalam rangka pembentukan karakter anak, antara lain :

1. Guru berperan sebagai pengajar

Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut.

2. Guru berperan membelajarkan anak

Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yanga ada dalam pikirannya. Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh (Tini Sumartini, 2005 :47)

Pada umumnya guru dalam menunaikan tugas-tugas mengajar akan menghadapi bermacam-macam kesulitan, lebih-lebih guru-guru agama yang baru menunaikan tugas. Zuhairini (1986 : 38) mengemukakan kesulitan yang dialami oleh guru pada umumnya yaitu :

1. Kesulitan dalam menghadapi adanya perbedaan individu murid yang disebabkan oleh perbedaan IQ-nya, perbedaan wataknya, dan perbedaan latar belakang kehidupannya. Dalam mengatasi hal ini guru tidak boleh terlalu terikat pada perbedaan individu, tetapi guru harus melihat anak didik dalam kesamaannya secara klasikal, walaupun keadaan individu anak pun harus mendapat perhatian.
2. Kesulitan dalam menentukan materi yang cocok dengan anak yang menghadapinya.
3. Kesulitan dalam memilih metode yang tepat. Untuk menghadapi hal tersebut guru harus bersedia untuk mencoba bermacam-macam metode, kemudian membandingkan hasilnya yang dianggap lebih berhasil.
4. Kesulitan dalam memperoleh alat-alat pelajaran dan alat atau bahan bacaan.
5. Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan kesulitan dalam mengadakan rencana yang telah ditentukan, karena kadang-kadang kelebihan waktu dan kadang-kadang kekurangan waktu.

Demikian beberapa kesulitan yang dialami oleh guru pada umumnya, belum lagi ditambah dengan adanya peran ganda terutama guru Sekolah Dasar, yakni sebagai guru bidang studi juga sebagai guru kelas yang mengelola kelas tertentu dan mengajarkan berbagai bidang pelajaran. Namun demikian guru hendaknya dapat mengatasi permasalahan tersebut walupun kadang-kadang diluar kemampuannya. Hendaklah kesulitan tersebut jangan dijadikan alasan untuk tidak efektifnya kegiatan belajar mengajar.

Selain guru, peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak. Melalui berbagai komunikasi serta interaksi dengan orang tua akan terbentuk sikap, kebiasaan dan kepribadian seorang anak, selain itu ada pula faktor lingkungan yang secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan anak, seperti halnya dengan kebudayan. Kebudayaan (culture) secara tidak langsung ikut mewarnai situasi, kondisi ataupun corak interaksi di mana anak itu berada. Selain faktor-faktor di atas, faktor agama juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi dan kebiasaan anak. Salah satunya adalah anak mulai tahu tentang kebersihan, yakni dengan melakukan buang air di tempat yang biasa dilakukan oleh orang tuanya.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang kedua setelah pendidikan keluarga. Maka dari itu sekolah mempunyai peranan penting untuk meneruskan dasar-dasar pendidikan keluarga. Pada umumnya sekolah merupakan tempat anak didik untuk memperoleh pengalaman-pengalaman, pengetahuan, keterampilan sehingga anak didik akan mendapat bekal hidup kelak bekerja di lingkungan masyarakat luas.

Yang harus diperhatikan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak misalnya anak yang terdidik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa akan cenderung menjadi manusia yang religius pula.

DAFTAR BACAAN

Drs. M. Solehuddin, M.Pd., MA. (1997) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Depdikbuk. IKP Bandung.

Dra. Jojoh Nurdiana, dkk.(2005) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, materi Penataran Tertulis Program Terakreditasi Guru TK, Bandung

Tini Sumartini, S.Pd. (206). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah, Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung
Read More...

Ubah Bahasa


English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pengunjung

msn spaces stats

Yang Berkunjung

free counters

Yang Lagi Online

Yang Online Hari ini

Facebook

 

Reader Community

Galery Photo